Desember 16, 2009

Menunggu Pelayanan Dokter M, SpoG = Penyakit Gila no. 2,5

Hati Paijo berbunga-bunga. Bagimana tidak senang alang kepalang, pagi itu sang istri membisikkan sesuatu yang membuatnya terbang ke langit ke tujuh (mana mungkin? Hanya nabi Muhammad SAW saja yang pernah ke langit ke tujuh pada waktu Isra’ Mi’raj). Apa gerangan bisikan yang membuat Paijo di hari-harinya setelah bisikan itu selalu riang gembira, senyam-senyum sendiri seperti orang sinting gak jelas awalannya.

Ternyata Paijo masih diberi oleh Tuhannya kepercayaan dengan akan ditambahkannya tanggung jawab berupa momongan. Anugrah berupa penambahan bobot tanggung jawab oleh Tuhannya itu mampu membuat Paijo benar-benar happy “sundul langit”. Dalam bahasa Paijo sebagai orang HRD, KPI nya selama 4 periode penilaian adalah A. Sehingga layak bagi dirinya untuk diberikan reward oleh Tuhannya berupa tambahan calon momongan.

Sebagaimana yang pernah dijalani ketika istrinya mengandung anak pertama, Paijo mulai memilih-milih dokter kandungan yang benar-benar bagus dan baik penanganannya. Bukannya Paijo sudah pengalaman dengan dokter kandungan ketika istrinya mengandung anak pertamanya yang sekarang berusia 4,5 tahun? Ya. Tapi Paijo sama sekali tidak berniat untuk kembali ke dokter yang bertitel Prof dan pernah menjadi Direktur di rumah Sakit terbesar di kotanya. Dia ngeri dengan berita di sebuah kolom pada sebuah koran di kotanya. Seorang Bapak menulis cerita: singkat cerita dia telah kehilangan istri tercinta dan buah hatinya di bawah penanganan dokter ini di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit ketika istrinya melahirkan anak pertamanya. Bergidik bulu kuduk Paijo bila dia mengenang dokter itu dan bayangan buruk yang menimpa bapak muda yang malang itu.

Browsing internet, info teman-teman dan segala sumber informasi mengenai dokter spesialis kandungan yang top markotop pun dihimpunnya untuk didiskusikan dengan istrinya. Mufakat bahwa dipilihnya dokter M, spesialis kandungan yang memang sudah kondang di kotanya, yang praktek di rumah sakit bersalin X di jalan Y di kotanya.

Dipilihnya hari Jum’at untuk kontrol ke dokter M ini. Jum’at merupakan weekend bagi Paijo dan istri, namun tidak bagi sang anak 4,5 tahunnya yang sudah sekolah TK. Tapi mau tidak mau sang anak harus ikut orang tuanya kontrol ke dokter ini, sebab Paijo tidak punya pembantu. Sehari-harinya mereka nitip sang anak di rumah orang tuanya untuk sekolah dan sore harinya sepulang kerja baru diambilnya si anak itu. Sang istri sudah confirm kehadiran dan mendapatkan nomor urut 27. Nomor bagus, kalau dijumlah ketemunya 9, tapi tidak bagus untuk pasien. Paijo sudah berburuk sangka. Dia mengkalkulasi segala kemungkinan. Dokter datang jam 19.00. Pasien rata-rata 10 menit untuk konsultasi, diperiksa, USG dan lain-lain. Kalau nomor urutnya 27 berarti jam 23.30 WIB istrinya baru mendapatkan pelayanan.

Paijo, istri dan anaknya datang jam 20.00 WIB dengan kenyataan bahwa sang dokter belum datang. Alamak... Demi si jabang bayi tetap saja dia bersabar hati, membesarkan hati istrinya untuk sabar, padahal dia sendirilah makhluk Tuhan yang tida sabaran. Dimulailah status dia sebagai pasien dalam artian yang sebenarnya: patient puulllll, alias harus bener-bener sabar. Satu persatu pasien dipanggil. Ada yang 10 menit, ada yang 15 menit, bahkan ada yang 20 menit, alamaakkkkk...

Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB ketika Paijo terbangun karena gigitan nyamuk yang luar biasa ganasnya, dasar nyamuk Westerling, bukan di temapt tidur full AC di rumahnya, melainkan di bangku pasien, sambil duduk, tepat di sebelahnya sang istri dan si anak pertamanya yang masih melek. Gila... Bener-bener kegilaan macam apa ini. Jam segini baru no. Urut 15. Kanan-kirinya masih ada 2 pasien lagi. Paijo berbesar hati. Kurang dua lagi. Tetapi yang luar biasa adalah pada waktu dini hari itu satu dua mobil datang, menurunkan ibu-ibu yang bunting, masuk sesuai nomer urutnya, diperiksa 10-20 menit, pulang. Olala... ternyata orang-orang ini adalah pasien-pasien on call. Artinya dia meninggalkan nomer telpon agar dapat dihubungi oleh si suster begitu nomernya sudah dekat. Wah... berarti masih lama waktu bagi Paijo dan istri serta anaknya untuk menunggu.

Tepat jam 02.00 WIB, waktu di mana maling sedang menjalankan profesinya, suster berteriak serak memanggil : Nyonya Paijo...

Bila anda semua, para pembaca yang budiman, pernah membaca ”laskar Pelangi”, menunggu mendapatkan pelayanan kesehatan dari jam 20.00 s/d 02.00 WIB, enam jam, adalah penyakit gila nomer 2,5.

Pulang dari rumah sakit ibu dan anak itu Paijo berfikir, alangkah konyolnya kehidupan ini. Demi mendapatkan pelayanan medis yang baik harus berkorban kesehatan tiga nyawa. Bagaimana tidak, apa akibat dari serangan nyamu Westerling itu terhadap dirinya, anak kecilnya dan istrinya? Apa akibat dari kurangnya waktu istrirahat karena menunggu sampai menjelang pagi hari? Dan lain-lain yang membuat darah Paijo naik sampai ke ujung rambut.

Dus, bagaimana pula dengan si Dokter, kapan waktu dia istirahat untuk memulihkan stamina guna melayani pasien? Kapan waktu dia untuk belajar ilmu kesehatan bila 24 jam nya dia lakukan untuk praktek?. Paijo tahu, dokter ini pagi hari praktek di rumah sakit besar di kawasan perumahan elite sebelah barat kotanya, malamnya dia praktek di rumah sakit ini. Terus kapan belajarnya? Bukannya ilmu kedokteran, khsusunya yang dia dalami hingga memperoleh gelar spesialis terus berkembang?

Begitulah, akhirnya Paijo memutuskan untuk beralih tempat periksa saja. Yang waktunya tidak malam, tidak merugikan dia, istri dan anaknya, tidak merugikan kesehatan mereka, tidak merugikan perasaan, dan yang terutama; tidak ikut-ikutan terjangkit penyakit gila nomer 2,5.