November 16, 2009

Si Udin dan Syahwat PNS nya

Rutinitas ”nggak masuk dinalar” itu sudah dijalaninya sejak dia lulus Sarjana Hukum 7 tahun yang lalu. Menunggu pendaftaran PNS dari pemkot-pemkot di kotanya dan di kota-kota yang berada di sekitar kotanya. Tahun pertama gagal, dengan sabar dia menunggu tahun berikutnya. Tahun berikutnya gagal, dengan ”ikhlas” dia menunggu satu tahun setelah tahun berikutnya, begitu terus menerus hingga usianya sekarang dalam bilangan 30. Rutinitas yang sungguh luar biasa.... bodohnya, entahlah.

Memang PNS, Pegawai Negeri Sipil (tanpa ditambahi ”is” dibagian belakang) adalah obesisnya. Entah didorong oleh naiknya status sosial apabila ia dapat menjadi pegawai negeri, entah didorong oleh ego orang tuanya yang selalu mendorong-dorong dia agar jadi abdi dalem kota. Entah lah... yang pasti syahwat itu masih menemui kebuntuan, sedangkan umur merampas otaknya yang tidak pernah diasah semenjak ia lulus menjadi Sarjana Hukum, bahkan mungkin tidak pernah diasah semenjak dia masih kuliah, karena ketika seseorang bertanya; nebis in idem itu apa? Dia sama sekali tak berkutik layaknya tikus kejepret perangkap tikus. Konyol bukan? Kekonyolan yang akan disesalinya seumur hidupnya. Entahlah.

Lalu apa yang dilakukan si Udin setahun dalam masa menunggu? Satu-satunya lelaki, kalau memang terasa nyaman disebut laki-laki, di antara empat saudara perempuannya yang salah satu dari perempuan itu dikawini oleh Paijo, melakukan pekerjaan besar yang hanya dilakukan oleh orang-orang khusus dengan ketrampilan nol besar: tidur. Bagaimana mungkin satu-satunya laki-laki, wali dari empat saudara perempuannya apabila bapaknya berhalangan, kebanggaan bapak ibunya, menghabiskan sepanjang waktunya untuk tidur dan tanpa mendapat ”sanksi” apa pun dari bapak ibunya? Itulah yang selalu menjadi pertanyaan besar bagi Paijo, pendidikan kehidupan macam apa ini? Entahlah.

Suatu ketika kakak pertamanya, seorang perempuan yang sukses berwiraswasta kuliner, mengajaknya untuk bekerja. Dan masya Allah... seorang laki-laki satu-satunya anak bapak ibunya, wali dari empat perempuan, seorang Sarjana Hukum dari Universitas yang tidak terlalu buruk, singkat kata seorang gentleman..... bekerja mencuci piring... di umurnya yang menjelang tiga pulu ketika itu.... Astaghfirullah... meskipun Paijo tidak pernah memandang hina pekerjaan itu, akan tetapi kebanggaan macam apa yang dapat ditunjukkan oleh seorang laki-laki di usianya yang tiga puluh dengan latar belakang Sarjana Hukum, entahlah.

Suatu ketika pula, di umurnya yang tergolong ”senja” untuk urusan cinta, dia mencoba untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis baik-baik yang dikenalkan oleh Pakdenya di suatu kota yang berjarak tiga puluh kiloan dari rumahnya. Entah karena mersa ganteng digandrungi perempuan-perempuan, yang konon cerita banyak yang naksir dia ketika dia, maaf, mencuci piring, dengan kebanggaan yang nyaris di atas ubun-ubun itu, dia merasa menjadi ”lelananging jagat ndunyo” ketika hubungannya dengan perempuan yang dikenalkan oleh pakdenya itu, menjadi hubungan yang ”kontroversial”. Mengapa kontroversial? Konon menurutnya, kakak perempuan yang mempekerjakan dia sebagai tukang cuci piring dan suruh-suruhan untuk belanja-belanja keperluan warung, tidak menyetujui hubungan itu. Bahkan sang kakak sudah mempersiapkan seorang perempuan cantik, yang dikenalnya dari seringnya si perempuan itu makan di warung sang kakak yang kebetulan, konon, sang perempuan itu bekerja sebagai, entah SPG atau penjaga toko, di mall di tempat sang kakak buka warung, menjadi ”calon” bagi sang adik tercinta. Inilah kekonyolan terlucu di tahun abad yang susah ini. Bagaimanapun, yang namanya kakak, untuk hal-hal yang berurusan dengan keluarga, pastilah fanatik. Artinya, apapun yang dirasa terbaik menurut keluarga, entah itu orang tua, adik, kakak, anak, istri, akan menjadi preferen, selalu didahulukan. Termasuk juga dalam hal ”perjodohan” ini. Sang kakak serta merta menyodorkan bidadarinya, sedangkan dari keluarga sudah muncul nama ”x” yang diplot sebagai pendamping. Tentu kondisi ini direspon dengan baik oleh si Udin. Munculnya opsi-opsi ini menjadikan dia merasa naik pamornya, ibarat keris, dia merasa sudah mencorong, luk 13, berlapir emas dengan sebutan nogososro. Maka dengan kebanggaan yang luar biasa... konyolnya, dia selalu menceritakan pertentangan-pertentangan ini ke setiap anggota keluarganya. Sungguh bangga dia. Tanpa rasa malu sedikitpun bahwa faktanya: Perempuan mana yang mau dengan laki-laki yang tidak punya skill dan pekerjaan. Bahkan dapat warisan tanah setonggak pun tidak dari orang tuanya pun tidak. Dalam hitungn waktu yang lambat maupun cepat, bidadari-bidadari itu pasti akan tersadar dari mimpi buruknya, dan kembali ke jalan yang benar. Bukankah masih ombyokan, bahasa kaki limanya "sewu telu" laki-laki di luar sana yang tentu lebih punya skill, punya kerja, lebih smart, yang masih bisa diharapkan untuk menjadi imamnya kelak. Paijo sering bertanya-tanya dalam hatinya sendiri, apa yang ada dibenak si Udin ini, ke geeran kah, kurang pergaulan kah, atau memang hanya sampai di situ tingkat pmikirannya sehingga dia tidak bisa menjalankan nalar yang diberikan oleh Allah untuk menalar hal-hal kecil yang nantinya akan dijalaninya sepanjang umurnya. Entahlah...

Kejadian 4 tahun yang lalu. Paijo ingat betul, karena dengan kejadian ini Paijo telah terluka oleh paku yang ditancapkan meskipun sudah tercabut, dan Paijo yakin telah melukai beberapa orang dengan paku yang ditancapkannya, meskipun paku itu juga sudah dicabut. November 2005, pagi hari di hari Minggu, ketika si Paijo dan istri dan anaknya yang berumur 5 bulan sedang santai-santai membersihkan rumah baru di perumahan murahan di pinggiran kota S. Telepon dari hape istrinya berdering ketika Paijo sedang memasang pompa air di belakang rumah. Telepon dari si Udin. Paijo sama sekali tidak mendengarkan percakapan itu, namun dari durasinya yag lebih dari 1 menit nalar Paijo jalan bahwa itu telpon penting dan urgent, sepenting dan se urgent telpon SBY kepada orang-orang yang hendak ditunjukknya sebagai menteri ketika hendak dibentuknya kabinet. Selesai dengan telepon itu, Paijo lansung bertanya ada apa. Dijawab oleh istrinya tidak ada apa-apa, namun Paijo adalah pembaca gerak tubuh yang baik. Ada persaan tidak nyaman dari istrinya ketika selesai ditelepon. Maka Paijo pun menaruh sedikit pransangka buruk. Benarlah yang disangka Paijo. Beberapa hari setelah telepon tiu Paijo membuka isi sms dari hape istrinya. Namun inbox nya kosong. Tapi sang istri tidak tahu bahwa sent item dan delivery report nya tidak terhapus. Ada beberpa sms yang isinya seperti koorinasi antara istrinya, si Udin dan Saudara-saudaranya, yang isinya adalah permufakatan urunan untuk memenuhi hasrat syahwat si Udin ini yang ngebet ingin masuk PNS, apapun caranya, termasuk juga menerima tawaran seseorang, yang Pajo tidak tahu siapa kah orang ini, menawarkan kepada orangtua si Udin dan si Udin sendiri untuk masuk menajdi pegawai pemkot dengan membayar 60 juta rupiah. Ubun-ubun Paijo mendidih, giginya gemertak, dasar Paijo yang temperamen, langsung dilabraknya sang Istri, yang kebetulan waktu itu sedang berkunjung ke rumah ibunya. Caci maki bahkan umpatan-umpatan dari Paijo dan dibalas oleh ibu mertuanya menjadikan suasana seperti sinetron di TV swasta yang tidak beujung pangkal. Paku di hati Pajo telah tertancap, dan Paijo pun menancapkan paku ke dada istrinya, mertuanya, dan saudara-saudara yang merasa tersinggung dengan caci maki Paijo. Semua terluka, semua berantakan, hanya gara-gara syahwat si Udin dengan PNS nya. Sedangkan si Udin tidak tahu sembunyi entah di mana. Almarhum ayah Paijo dan ibunya yang berpendidikan tidak lulus SMP tidak pernah mengajari anak-anaknya untuk meraih sesuatu dengan instant, dengan menyuap, dengan menyogok. Apalah yang dapat dibanggakan di kelak kemudian hari, apalah kebanggaan individu, jika hasil yang diperoleh dengan cara yang instant, instant nya juga dengan menyusahkan orang lain. Semenjak kejadian itu hubungan antara Paijo dan keluarga istrinya mulai merenggang. Ada rasa dendam, jengkel, sumpah serapah dalam hati, dan sebagainya yang masih menggumpal di dada dan otak Paijo. Lebih dari 3 bulan Paijo tidak berkunjung lagi ke rumah mertuanya, sampai dengan ibu Paijo pulang dari Haji. Pada saat itu mertua laki-lakinya sedang sakit, maka Paijo pun berkenan untuk kembali menginjakkan kakinya di rumah mertuanya, tapi tidak untuk sampai menginap. Paku-paku itu memang sudah tercabut, tapi luka yang diakibatkannya tetaplah membekas entah sampai kapan, hanya karena satu orang yang tidak berguna, entahlah...

Selang beberapa bulan yang lalu, dengan berprinsip bahwa laki-laki itu harus punya kehormatan, apalagi dengan umur yang sudah kepala tiga dan ada seorang gadis manis, entah sampai kapan dia mampu bertahan dsri rasa malu yang nanti akan dirasakannya, Paijo pun menawarkan kepada si Udin untuk bekerja di kantor konsultan milik Bos nya di kantor. Bayangkan saja, tanpa skill, bahkan skill dasar pun misalnya bisa ngetik di komputer, umur sudah kepala 3, tidak punya pengalaman sama sekali bekerja, lulusan dari Universitas yang biasa-biasa saja yang mungkin ilmunya sudah menguap ditelan senja, adalah suatu keberuntungan yang tiada duanya kalau sampai ada kantor yang mau menerimanya, kecuali untuk jabatan, maaf, tukang sapu. Sebulan bekerja banyak sekali cerita yang keluar dari mulut si udin yang memang seperti perempuan ini. Seratus persen adalah cerita tentang penderitaannya selama bekerja di kantor konsultan itu. Gila, pikir Paijo, kok ya ada laki-laki seperti ini. Selama tiga puluh lima tahun umurnya di dunia ini, baru satu orang laki-laki, si Udin ini, yang paling tolol dan tidak bernalar yang pernah dikenalnya. Hingga di akhir bulan masa satu bulan kerjanya dia menyatakan tidak sanggup bekerja lagi di kantor itu karena tekanan yang tinggi. Gila, kebanggaan dan kehormatan apa yang dimiliki oleh si udin ini. Paijo suda tidak ambil pusing lagi. Orang tuanya pun terlihat santai saja, bahkan percaya saja bahwa bekerja di luar umah itu memang berat. Mereka biasa saja melihat anak laki-laki satu-satunya di keluarga itu menjalankan aktifitas rutinnya seharí-hari, yang telah dilaluinya Sejak tujuh tahun lalu ketika dia lulus dari kuliahnya, bukankah memang dia sudah dicetak dan di desain seperti ini dari kecilnya. Suatu pendidikan yang tidak akan diberikan oleh Paijo kepada anak-anaknya kelak di kemudian hari. Kebanggaan apa yang dapat diceritakan oleh si Udin kepada keluarga kekasihnya, bahwa sampai dengan usia dewasanya yang tergolong senja untuk mulai bekerja, dia sama sekali tidak punya cerita apa-apa. Atau bahkan justru itulah kebanggaan yang dapat diceritakannya; menganggur dalam kurun waktu yang tidak masuk akal tanpa usaha apapun selain ikut tes dan ikut tes lagi, bertahun-tahun, tanpa hasil. Itulah kebaggaannya; ikut tes CPNS, sesuai dengan syahwat PNS nya, entahlah...



Surabaya, 14 November 2009

Nama Bayi

“Kau beri nama siapa bayimu, Jo ?”

Begitulah pertanyaan yang kerap didengar oleh Paijo akhir-akhir ini. Maklumlah, Paijo adalah calon bapak muda dari anak yang dikandung istrinya, yang kini kandungannya sudah memasuki bulan yang ke tujuh. Tetangga kanan-kiri, teman sekantor, saudara-saudara, bahkan orang tua dan kakek-neneknya pun menanyakan hal serupa dengan pertanyaan yang hampir sama.

Tapi Paijo kan orangnya arif dan bijaksana. Dia hanya tesenyum saja menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu. Bahkan ada yang agak “kelewatan” dengan memberikan usul agar nama bayinya ini atau anu. Tapi itulah Paijo, dengan senyuman yang selalu tersungging di pipi, meskipun jauh dari manis, tetap tersenyum saja mendengar usulan-usulan itu.

Paijo adalah laki-laki yang dilahirkan dari keluarga feodal-agamis, dengan nuansa santri yang sangat kental sekali. Bapak dan ibunya sudah tiga kali naik haji. Dia anak terakhir dari 10 bersaudara. Bapaknya seorang kyai di daerahnya. Tak berbeda dengan Paijo, istinya, Sophia, juga lahir dan besar di lingkungan santri, sebab Bapak-ibunya juga seorang tokoh agama di daerahnya. Memasuki masa remaja, Paijo merantau ke kota untuk bersekolah di Universitas yang dirasa baik olehnya. Di sinilah Paijo dan istrinya bertemu dan singkat cerita mereka menjadi suami-istri dan menetap di kota tempat mereka dulu menimba ilmu dan mencari nafkah di masa sekarang.

“kamu beri nama siapa calon bayimu, Jo ?”.

Pertanyaan itu kembali terngiang lagi ditelinganya tatkala dia memandangi perut istrinya yang semakin membesar itu.

“Beckham saja Jo, biar nanti seperti beckham, wis ngganteng, kaya lagi”.
Begitu salah satu temannya yang gila bola memberi usul. Seperti yang sudah-sudah, Paijo hanya tersenyum saja, tak mengiyakan juga tak membantah.

Jujur bahwa Paijo sama sekali belum merencanakan nama untuk jabang bayinya itu. Walah... padahal kelahiran sang jabang bayi sudah tinggal menunggu hitungan hari saja. Dia tahu bahwa jabang bayi itu laki-laki. Hasil USG yang mengatakan demikian. Namun Paijo belum memikirkan siapa nama bayi yang bakal diberikannya. Yang dia pikirkan hanya rasa heran, kenapa semuanya berlomba-lomba untuk mengusulkan nama bagi bayinya. “Ah…. Ini hanya bentuk dari perhatian mereka kepadaku, mereka sungguh sangat baik”. Begitulah yang selalu dianggap Paijo setiap ada pertanyaan atau usulan tentang nama jabang bayinya. Dan sama sekali, sekali lagi, terlintas dibenaknya mengeani apa nama yang akan diberikan kepada bayinya itu, wah…. Sungguh sangat santai sekali si Paijo ini.

“Minggu besok kamu datang kesini, Bapak ingin membicarakan sesuatu dengan kamu dan istrimu, Eyangmu juga akan kesini”.

Begitulah telpon yang baru saja diterima Paijo dari orang tuanya. Ada apa ya ? kenapa kok Eyang juga perlu denganku? Dapat warisan kah ? begitulah, fikiran Paijo menari-nari, hatinya menerka-nerka, ada apa gerangan minggu besok?. Sampai melibatkan Eyang segala.

Begitulah, hari minggu datang. Paijo segera berangkat ke rumah orang tuanya yang berjarak 75 km dari kotanya dengan naik bis. Maklumlah, kendaraannya hanya motor. Bagaimana dia hendak naik motor dengan kondisi istri yang sedang hamil tua seperti itu?. Setelah 2 jam perjalanan sampai juga ia di daerah kelahirannya 28 tahun silam.

Setelah sungkem kanan-kiri, mulailah mereka terlibat dalam pembicaraan serius layaknya delegasi Palestina dan Israel yang sedang bertemu di meja perundingan. Ujung dari pembicaraan itu adalah, si Bapak memberi usul, yang bersifat wajib, agar nama anaknya ada “Arief”nya, dengan alasan agar kelak si anak tumbuh menjadi laki-laki yang arief, bijaksana, dan bila punya pabrik selalu memperhatikan kesejahteraan karyawannya dan selalu pas waktu bila menaikkan gaji karyawannya.

Sedang si Eyang usul agar nama “Bimo” juga diikut sertakan, dengan harapan bahwa kelak si anak menjadi laki-laki yang gagah berani, jujur, dan pandai, paling tidak dengan nama itu si anak kelak menjadi terkenal, kan Bimo sudah menjadi merknya jamu kuat kan?. Ding…. Dung…. Inti dari pembicaraan tersebut terungkap sudah.

Paijo, dengan senyum khasnya dan sikap kelemar-kelemernya mengucapkan terima kasih atas urun rembug para orang tua di depannya untuk nama bayinya. Namun dengan sekali berucap dia menyatakan menolak nama itu, meskipun di rasa nama-nama tersebut bila dijadikan satu akan menjadi nama yang bagus dan bermakna. Inilah Paijo, bila sudah menolak, meskipun dicium Pamela Anderson 3 jam pun dia tetap menolak.

Dia berargumen bahwa cukuplah bagi Bapaknya untuk memberi nama, apa masih kurang bagi beliau yang sudah memberi nama kepada 10 anak-anaknya. Bahkan dia pun tak menolak ketika bayi dulu diberi nama Paijo, lengkapnya, Ahmad Paijo Sulaeman Madjid Agung (awas bacanya keliru: Masjid Agung). Begitu juga kepada Eyangnya, apa beliau belum cukup puas juga dengan sudah memberi nama kepada Bapaknya dan saudara-saudara Bapaknya. Apa dia tega merampas hak Paijo, yang untuk pertama kalinya punya anak, untuk memberi nama yang bukan dari Paijo sendiri. Paijo hanya ingin nama yang 100 % adalah hasil pemikiran, kreasi, imajinasi, dan pengalaman spiritual dari dia sendiri dan istrinya, bukan dari orang lain, bahkan orang tua dan Eyangnya pun tak punya hak untuk memberikan nama. Urun rembug boleh saja, tapi terserah Paijo, nama tersebut dipakai atau tidak.

Tapi dasar Paijo, yang jaman mahasiswanya dulu adalah korlapnya demo, bacaan yang sudah dilahapnya dari kitab-kitab keagamaan seperti Riadhus Shalihin, Bidayatul Bidayah sampai ke The Prophet-nya Kahlil Gibran (yang selalu menginspirasi dia), Das Kapitalism-nya Karl Marx, Dialektika logika-nya-Friedrich Engels, dan lain-lain. Menolak nama-nama pemberian orang tua dan Eyangnya itu. Dia bertekat bulat; sejelek apapun nama yang bakal diberikannya, apa itu Fuckin Martinez kek, Adam santiago kek, Ahmad Yohanes kek, semua adalah haknya dan istrinya yang tidak bisa diganggu gugat.

Begitulah akhir dari “rapat” keluarga tersebut. Paijo dan istri pulang dengan “demokrasi” dan “hak” yang tetap akan selalu dipegannya meskipun melalui “perjuangan” berhadapan dengan orang tua dan orangtua dari orang tuanya. Dan…. Bersyukurlah sang anak kelak sebab dia dilahirkan dari orang tua yang “melek” demokrasi.