September 25, 2009

Maryamah Karpov; Andrea Hirata : CARA PANDANG

SEPANJANG hari aku melamunkan kejadian di imarahi Ibu pagi tadi. Puluhan tahun aku menyandang nama Hirata, baru hari ini aku mafhum maksudnya. Selama ini aku selalu menduga nama itu dilekatkan pada nama depanku karena orangtuaku ingin aku pintar seperti orang Jepang. Atau karena Hirata bagus kedengarannya, tak ketinggalan zaman, modern. Sering pula kusangka nama itu diambil dari seorang Jepang pahlawan, seniman maestro, atlet pencetak rekor, seorang ilmuwan discoverer yang menaklukkan Kutub Utara atau seorang inventor—penemu obat tangkal bengek, seorang dokter hebat, atau profesor penemu magic Jar, alat penetas telur, peninggi badan, atau paling tidak pencegah botak. Rupanya, seperti sangkaku akan wajahku dulu, anggapanku akan nama pun telah mengalami overvaM Menyadari akhirat lekat dalam namaku, begitu dekat, aku berdebar-debar. Hari ini aku berjumpa dengan Lintang di Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi untuk membicarakan desain perahu. Kusampaikan padanya bahwa aku tak pirnya konsep bagaimana membuat perahu. Tingkat kesulitan membuatnya dan kemegahan perahu Mapangi telah memblok mentalku. Lintang yang sejak dulu selalu bisa membaca pikiranku, menghirup kopinya, santai saja. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Menit demi menit berlalu, tapi inilah situasi yang selalu kurindukan darinya, selalu kunanti-nanti. Sebab aku tahu, sebentar lagi sesuatu yang amat cemerlang pasti segera meluncur dari mulut pintarnya itu. Sementara di luar warung kopi, Nurmi membawakan lagu Semalam di Malaysia, Indah mendayu-dayu. "Lihatlah Nurmi main biola," kata Lintang tenang. 'Tahukah kau, Boi? Biola adalah instrumen yang amat susah dimainkan. Pemainnya harus punya feeling yang kuat untuk menemukan nada Sebab tak ada pedoman posisi nada seperti pada gitar. Tangan kanan menggesek, jemari kiri menekan dawai, itu tak mudah, karena dua macam gerak mekanika yang berbeda. Jarak dawainya pun amat dekat, maka gampang sekali suaranya distorsi. Jangankan menemukan nada yang pas, menggeseknya dengan benar saja memerlukan latihan lama. Orang yang tak berjiwa musik, tak kan dapat memainkan biola." Aku menyimak kisah biola ini, tapi belum dapat kulihat hubungan biola Nurmi dengan peraku Mapangi. 'Jika kau ingin belajar main biola dengan memikirkan bagaimana Nurmi bisa membawakan lagu Semalam di Malaysia seindah itu, kau tak kan bisa melakukannya. Bagaimana kau dapat menemukan presisi nada seperti Nurmi? Bagaimana kau dapat menemukan koordinasi gerak mekanikamu? Sehingga muncul vibrasi yang menakjubkan itu? Begitulah caramu melihat perahu Mapangi selama ini."
Mulai menarik. Lintang mengulum senyum khasnya. "Barangkah akan lebih mudah jika kita berpikir bahwa biola adalah alat musik akustik yang berbunyi karena getaran. Tangga nadanya merupakan konsekuensi dari panjang-pendek gelombang akibat jemari yang memencet dawai bergerak dalam jarak tertentu ke depan atau belakang stang-nya. Dengan melatih terus jemari agar konsisten denganjarak tertentu itu, begitulah kita akan menemukan nadanya" Membuat sesuatu yang rumit menjadi begitu sederhana adalah keahlian khusus Lintang yang selalu membuatku iri. "Kesulitan akan gampang dipecahkan dengan mengubah cara pandang, Boi." Aku teringat, serupa ini pula Lintang dulu memecahkan hambatan kami sekelas belajar bahasa Inggris. "Begitu pula perahu," katanya dengan mata pintarnya yang berkilauan. "Jika kepalamu selalu dipenuhi oleh hebatnya kapal Bulukumba Mapangi, tak kan mampu kaubuat perahu itu. Mulai sekarang kau harus berpikir bahwa perahu, apa pun bentuknya, adalah sebuah bangun geometris yang tunduk pada dalil-dalil hidrodinamika. Berangkadah dari sana Kau harus berangkat dari sebuah pernikihan hidrodinamika!" Aku terpukau karena kagum. Betapa genius orang udik di depanku an? Mengapa aku tak pernah berpikir dengan cara sep^i Lelaki pandai yang rendah hati itu tersenyum kecil saja melihatku terperangah. Ia mohon diri sembari memberikan petuah terakhirnya. Tempatkan dirimu sebagai ilmuwan, Boi, bukan sebagai pembuat perahu. Dengan ilmu, perahumu akan lebih hebat daripada perahu Mapangi!"

Sang Pemimpi; Andrea Hirata : BAJU SAFARI AYAHKU

Ibuku, jelas lebih pintar dari ayahku. Ibuku paling tidak bisa menuliskan namanya dengan huruf Latin. Ayahku, hanya bisa menuliskan namanya dengan huruf Arab, huruf Arab gundul. Dan tanda tangannya pun seperti huruf shot. Tahu, 'kan? Sebelum tho dan zho itu.
Dan ayahku adalah pria yang sangat pendiam. Jika berada di rumah dengan ibuku, rumah kami menjadi pentas monolog ibuku, berpenonton satu orang. Namun, belasan tahun sudah jadi anaknya. Aku belajar bahwa pria pendiam sesungguhnya memiliki rasa kasih sayang yang jauh berlebih dibanding pria sok ngatur yang merepet saja mulutnya.
Buktinya, jika tiba hari pembagian rapor, ayahku mengambil cuti dua hari dari menyekop xenotim di instalasi pencucian timah, wasrai. Hari pembagian raporku adalah hari besar bagi beliau. Tanpa banyak cincong, hari pertama beliau
mengeluarkan sepatunya yang bermerek Angkasa. Dijemurnya sepatu kulit buaya yang rupanya seperti tatakan kue sempret itu, dipolesnya lembut dengan minyak rem dicampur tumbukan arang. Lalu ikat pinggangnya, dari plastik tapi meniru motif ular,
juga mendapat sentuhan semir istimewa itu. Dijemurnya pula kaus kakinya, sepasang kaus kaki sepak bola yang tebal sampai ke lutut, berwarna hijau tua.
Setelah itu, spesial sekali, beliau akan menuntun keluar sepeda Rally Robinson made in England-nya yang masih mengilap. Sejak dibeli kakeknya tahun 1920, tak habis hitungan jari tangan kaki sepeda itu pernah dikeluarkan. Diperiksanya
dengan teliti ban dan rantainya, dicobanya dinamo dan kliningannya, dan tak lupa, sepeda itu pun mendapat kehormatan dipoles ramuan semir merek beliau sendiri tadi. Dan yang terakhir, hanya, sekali lagi hanya, untuk acara yang sangat penting, beliau mengeluarkan busana terbaiknya: baju safari empat saku! Baju ini punya nilai historis bagi keluarga kami. Aku ingat, tahun 1972, setelah bertahun-tahun menjadi tenaga langkong, semacam calon pegawai PN Timah, akhirnya ayahku diangkat menjadi kuli tetap. Bonus pengangkatan itu adalah kain putih kasar bergaris-garis hitam. Oleh ibuku kain itu dijadikan lima potong celana dan baju safari sehingga pada hari raya Idul Fitri tahun 1972, ayahku, aku, adik laki-lakiku, dan kedua abangku memakai baju seragam: safari empat saku! Kami silaturahmi keliling kampung seperti rombongan petugas cacar. Saat pembagian rapor, ibuku pun tak kalah repot. Sehari semalam beliau merendam daun pandan dan bunga kenanga untuk dipercikkan di baju safari empat saku ayahku itu ketika menyetrikanya. Persiapan ayahku mengambil rapor akan ditutup dengan berangkat ke kawasan los pasar ikan untuk mencukur rambut dan kumis ubannya. Di sana, sambil memperlihatkan amplop undangan dari Pak Mustar, wakil kepala sekolah kami itu, beliau sedikit bicara, seperti berbisik, pada kawan-kawan dekatnya,
para pejabat trias politika Masjid Al-Hikmah.
“Besok, akan mengambil rapor Arai dan Ikal.... “
“Senyum ayahku indah sekali. Karena baginya aku dan Arai adalah pahlawan keluarga kami.
“Oh ... si Kancil Keriting itu, Pak Cik? “
“Taikong Hamim selalu menatap ayahku lama-lama untuk mengharapkan lebih banyak kata meluncur dari mulut beliau. Itulah orang pendiam, kata-katanya ditunggu orang. Sebenarnya, dengan memperlihatkan isi amplop itu ayahku bisa membual sejadi-jadinya. Karena dalam undangan tertulis aku dan Arai berada dalam barisan bangku garda depan. Siswa yang tak buruk prestasinya di SMA Negeri Bukan Main. Tapi bagi ayahku, tujuh kata itu: besok, akan mengambil rapor Arai dan Ikal, yang terdiri atas tiga puluh empat karakter itu, su dah cukup. Pada hari pembagian rapor, ayah ibuku telah menyiapkan segalanya. Suami istri itu bangun pukul tiga pagi. Ibuku menyalakan arang dalam setrikaan, mengipas-ngipasinya, dan dengan gesit memercikkan air pandan dan bunga kenanga, yang telah direndamnya sehari semalam, di sekujur baju safari empat saku keramat itu. Ayahku kembali melakukan pengecekan pada sepedanya
untuk sebuah perjalanan jauh yang sangat penting. Usai salat subuh ayahku siap berangkat. Dengan setelan lengkapnya: ikat pinggang bermotif ular tanah, sepatu kulit buaya yang mengilap, dan kaus kaki sepak bola, serta baju safari jahitan istrinya tahun 1972, yang sekarang berbau harum seperti kue bugis, kesan seorang buruh kasar di instalasi pencucian timah menguap dari ayahandaku. Sekarang beliau adalah mantri cacar, syahbandar, atau paling tidak, tampak laksana juru tulis kantor desa. Ibuku menyampirkan karung timah berisi botol air minum dan handuk untuk menyeka keringat. Lalu beliau bersepeda ke Magai, ke SMA Negeri Bukan Main, 30 kilometer jauhnya, untuk
mengambil rapor anakanaknya. Di bawah rindang dedaunan bungur, di depan aula tempat
pembagian rapor, sejak pagi aku dan Arai menunggu ayahku. Aku membayangkan beliau, yang akan pensiun bulan depan, bersepeda pelan-pelan melalui hamparan perdu apit-apit, kebun-kebun liar, dan jejeran panjang pohon angsana reklamasi bumi Belitong yang dihancurleburkan PN Timah. Lalu beliau beristirahat di pinggir jalan.
Beliau pasti menuntun sepedanya waktu mendaki Bukit Selumar, dan tetap menuntunnya ketika menuruni undakan itu sebab terlalu curam berbahaya. Beliau kembali melakukan hal yang sama saat melewati Bukit Selinsing, dan kembali terseok-seok mengayuh sepeda melawan angin melalui padang sabana belasan kilometer menjelang Magai. Tak mengapa, sebab kesusahan beliau akan kami obati di sini. Di dalam aula itu, Pak Mustar mengurutkan dengan teliti seluruh ranking dari tiga kelas angkatan pertama SMA kami. Dari ranking pertama sampai terakhir 160. Semua orangtua murid dikumpulkan di aula dengan nomor kursi besar-besar, sesuai
ranking anaknya. Nomor itu juga dicantumkan dalam undangan. Bukan Pak Mustar namanya kalau tidak keras seperti itu.

Maka pembagian rapor adalah acara yang dapat membanggakan bagi sebagian orangtua sekaligus memalukan bagi sebagian lainnya. Pak Mustar menjejer sepuluh kursi khusus di depan. Di sanalah berhak duduk para orangtua yang anaknya meraih prestasi sepuluh besar.
“Sepuluh terbaik itu adalah anak-anak Melayu avant garde, garda depan, “
“katanya bangga ketika mengenalkan konsepnya pada rapat orangtua murid.
Dan kebetulan, aku dan Arai berada di garda depan. Aku urutan ketiga, Arai kelima. Adapun Jimbron, mempersembahkan nomor kursi 78 untuk Pendeta Geo. Biasanya acara pembagian rapor akan berakhir dengan makian-makian kasar orangtua pada anak-anaknya di bawah jajaran pohon bungur di depan aula tadi.
“Berani-beraninya kaududukkan bapakmu di kursi nomor 147! Apa kerjamu di sekolah selama ini?! “
“Bikin malu! Semester depan kau cari bapak lain untuk mengambil rapormu!! “
“Metode Pak Mustar memang keras, tapi efektif. Anak-anak yang dimaki bapaknya itu biasanya belajar jungkir balik dalam rangka memperkecil nomor kursinya. Mereka sadar bahwa muka bapaknya dipertaruhkan langsung di depan majelis. Aku dan Arai serentak berdiri ketika melihat sepeda ayahku. Sepeda itu mudah dikenali dari kap lampu aluminium putih yang menyilaukan ditimpa sinar matahari. Beliau melihat kami melambai-lambai dan mengayuh sepedanya makin cepat. Lima meter menjelang kami, dadaku sejuk berbunga-bunga karena aroma daun pandan. Beliau turun dari sepeda, seperti biasa, hanya satu ucapan pelan “
“Assalamu'alaikum “
“, tak ada kata lain. Beliau menepuk-nepuk pundak kami sambil memberikan senyumnya yang indah. Beliau mengelap keringat, merapikan rambutnya dengan tangan, dan berjalan tenang memasuki aula dengan gaya jalannya yang pengkor,
mencari kursi nomor tiga. Tepuk tangan ramai bersahutan ketika nama ayahku
dipanggil. Setelah menerima raporku, Pak Mustar mempersilakan ayahku menempati kursi nomor lima yang kosong, dan tepuk tangan kembali membahana waktu namanya kembali dipanggil untuk mengambil rapor Arai. Tidaklah terlalu buruk, seorang
tukang sekop di wasrai dipanggil dua kali oleh Kepala SMA Negeri Bukan Main. Kulihat senyum menawan ayahku dan aku tahu, saat itu adalah momen terbaik dalam hidupnya. Selesai menerima rapor, ayahku keluar dari aula dengan tenang dan dapat kutangkap keharuan sekaligus kebanggaan yang sangat besar dalam dirinya. Beliau menemui kami, tapi tetap diam. Dan inilah momen yang paling kutunggu. Momen itu
hanya sekilas, yaitu ketika beliau bergantian menatap kami dan dengan jelas menyiratkan bahwa kami adalah pahlawan baginya. Dan kami ingin, ingin sekali dengan penuh hati, menjadi pahlawan bagi beliau. Lalu ayahku tersenyum bangga, hanya
tersenyum, tak ada sepatah pun kata. Senyumnya itu seperti ucapan terima kasih yang diucapkan melalui senyum. Beliau menepuk-nepuk pundak kami, mengucapkan “
“Assalamu'alaikum”dengan pelan sekali, lalu beranjak pulang. Mengayuh sepedanya lagi, 30 kilometer. Kupandangi punggung ayahku sampai jauh. Sepedanya berkelak-kelok di atas jalan pasir. Betapa aku mencintai lakilaki pendiam itu. Setiap dua minggu aku bertemu dengannya, tapi setiap hari aku merindukannya.

Laskar Pelangi; Andrea Hirata : ELVIS HAS LEFT THE BUILDING

KAMI sedang benci pada Samson karena sikapnya yang keras kepala. Kami berdebat hebat di
bawah pohon filicium. Sembilan lawan satu. Tapi ia dengan konyol tetap memperjuangkan
pendiriannya, tak mau kalah.

Duduk perkaranya adalah semalam kami baru saja menonton film Puiau Putri yang dibintangi S.Bagyo. Di film itu S. Bagyo dkk. terdampar di sebuah pulau sepi yang hanya dihuni kaum wanita. Kerajaan atau berarti lebih tepatnya keratuan di pulau itu sedang diteror seorang ne-nek sihir berwajah seram. Jika ia tertawa, ingin rasanya kami terkencing-kencing.

Kami menonton film yang diputar sehabis ma-grib itu di bioskop MPB (Markas Pertemuan Buruh) yang khusus disediakan oleh PN Timah bagi anak-anak bukan orang staf. Sebuah bioskop kualitas misbar dengan 2 buah pengeras suara lapangan merk TOA. Karena lantainya tidak didesain selayaknya bioskop maka agar penonton yang paling belakang tidak terhalang pandangannya, di bagian belakang disediakan bangku tinggi-tinggi.

Dan kami, sepuluh orang termasuk Flo duduk berjejer di bangku paling belakang.

Anak-anak orang staf menonton di tempat yang berbeda, namanya Wisma Ria. Di sana film diputar dua kali seminggu. Penonton dijemput dengan bus berwarna biru. Tentu saja di bioskop itu juga terpampang peringatan keras "DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK".

Kami tak menduga sama sekali kalau film yang berjudul indah Putau Putri tersebut adalah film horor. Membaca judulnya kami pikir kami akan melihat beberapa putri cantik melumuri tubuhnya dengan semacam krim dan lari berlarian sambil tertawa cekikikan di pinggir pantai.

"Asyik," kata Kucai berbinar-binar.

Namun, perkiraan kami meleset. Baru beberapa menit film dimulai nenek sihir itu muncul dengan tawanya yang mengerikan. Yang cekikikan adalah kaum dedemit. S. Bagyo dan kawan-kawan lari terbirit-birit. Dari belakang aku dapat menyaksikan seluruh penonton, anak-anak kuli PN Timah, tiarap setiap nenek jahat itu muncul di layar. Beberapa anak perempuan menangis dan anak-anak lainnya ambil langkah seribu, kabur dari bioskop rombeng ini dan tak kembali lagi.

Di deretan tempat dudukku kulihat Samson yang duduk di ujung kiri hampir sama sekali tidak menonton. la bersembunyi di ketiak Syahdan. Sebaliknya, Syahdan bersembunyi di ketiak A Kiong. A Kiong bersembunyi di ketiak Kucai, Kucai di ketiakku. Aku dan Trapani di ketiak Mahar.

Trapani menjerit-jerit memanggil ibunya jika nenek sihir itu mengobrak-abrik kampung. Dan
Mahar menunduk seperti orang mengheningkan cipta.

Yang berdiri tegak tak bergerak hanya Harun, Sahara, dan Flo. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat S. Bagyo pontang-panting dikejar setan. Jika S. Bagyo berhasil lolos mereka bertepuk tangan.

Ketika pulang, kami bergandengan tangan. Ketika melewati kuburan, tangan Trapani sedingin es.

Esoknya, saat istirahat siang Samson berkeras bahwa nenek sihir itulah yang diuber-uber oleh S. Bagyo. Kami semua protes karena ceritanya sama sekali tidak begitu.

"Tahukah kau justru Bagyolah yang diuber-uber nenek sihir sepanjang film itu," Samson berkeras.

"Mana mungkin," bantah Kucai.

"Aku melihat sendiri kau menggigil ketakutan di bawah ketiak Syahdan," serang A Kiong.

Samson masih berkelit, "Apa kau sendiri me-nonton? Setahuku hanya Sahara, Harun, dan Flo yang tak sem-bunyi."

Sahara melirik kami dengan pandangan jijik, "Semua pria brengsek!" katanya ketus.

Harun mengangguk-angguk mendukung mutlak pernyataan itu.

"Biar kami hanya melirik sekali-sekali bukan ber-arti kami tak tahu jalan ceritanya," Mahar memojokkan Samson.

Demi mendengar kata "melirik sekali-sekali" itu

Sahara semakin jijik.

"Semua pria menyedihkan!"

Samson membalas Mahar, "Ah! Tahu apa kau soal film, urus saja jambulmu itu!"

Kami semua tertawa geli, dan memang Mahar segera menyisir jambulnya.

Kami semua terlibat perang mulut, kecuali Trapani, ia diam melamun. Belakangan ini Trapani semakin pendiam dan sering melamun. Aku paham apa yang terjadi. Samson malu mengakui bahwa ia bersembunyi di bawah ketiak Syahdan. Ia tak ingin citranya sebagai pria macho hancur hanya karena ketakutan nonton sebuah film. Perilakunya itu persis kaum oportunis di panggung politik negeri ini.

Perdebatan semakin seru. Diperlukan seorang penengah dengan wawasan dan kata-kata cerdas
pamungkas untuk mengakhiri perseteruan ini. Sayangnya si cerdas itu sudah dua hari tak tampak batang hidungnya. Tak ada kabar berita.

Ketika esoknya Lintang tak juga hadir, kami mulai khawatir. Sembilan tahun bersama-sama tak pernah ia bolos. Saat ini sedang musim hujan, bukan saatnya kerja kopra. Bukan pula musim panen kerang, sementara karet telah digerus bulan lalu. Pasti ada sesuatu yang sangat penting. Rumahnya terlalu jauh untuk mencari berita.

Sekarang hari Kamis, sudah empat hari Lintang tak muncul juga. Aku melamun memandangi tempat duduk di sebelahku yang kosong. Aku sedih melihat dahan filicium tempat ia bertengger jika kami memandangi pelangi. Ia tak ada di sana. Kami sangat kehilangan dan cemas. Aku rindu pada Lintang.

Kelas tak sama tanpa Lintang. Tanpanya kelas kami hampa kehilangan auranya, tak berdaya.
Suasana kelas menjadi sepi. Kami rindu jawaban-jawaban hebatnya, kami rindu kata-kata cerdasnya, kami rindu melihat-nya berdebat dengan guru. Kami juga rindu rambut acak-acakannya, sandal jeleknya, dan tas karungnya.

Bu Mus berusaha ke sana sini mencari kabar dan menitipkan pesan pada orang yang mungkin
melalui kampung pesisir tempat tinggal Lintang. Aku cemas membayangkan kemungkinan buruk.
Tapi biarlah kami tunggu sampai akhir minggu ini.

Senin pagi, kami semua berharap menjumpai Lintang dengan senyum cerianya dan kejutan-kejutan barunya. Tapi ia tak muncul juga. Ketika kami sedang berunding untuk mengunjunginya, seorang pria kurus tak beralas kaki masuk ke kelas kami, menyampaikan surat kepada Bu Mus. Begitu banyak kesedihan kami lalui dengan Bu Mus selama hampir sembilan tahun di SD dan SMP Muhammadiyah tapi baru pertama kali ini aku melihatnya menangis. Air matanya berjatuhan di atas surat itu.

Ibunda guru,

Ayahku telah meninggal, besok aku akan ke sekolah. Salamku, Lintang.

Seorang anak laki-laki tertua keluarga pesisir miskin yang ditinggal mati ayah, harus menanggung nafkah ibu, banyak adik, kakek-nenek, dan paman-paman yang tak berdaya, Lintang tak punya peluang sedikit pun untuk melanjutkan sekolah. la sekarang harus mengambil alih menanggung nafkah paling tidak empat belas orang, karena ayahnya, pria kurus berwajah lembut itu, telah mati, karena pria cemara angin itu kini telah tumbang. Jasadnya dimakamkan bersama harapan besarnya terhadap anak lelaki satu-satunya dan justru kematiannya ikut membunuh cita-cita agung anaknya itu. Maka mereka berdua, orang-orang hebat dari pesisir ini, hari ini terkubur dalam ironi. Di bawah pohon fiiicium kami akan mengu-capkan perpisahan. Aku hanya diam. Hatiku kosong. Perpisahan belum dimulai tapi Trapani sudah menangis terisak-isak. Sahara dan Harun duduk bergandengan tangan sambil tersedu-sedu. Samson, Mahar, Kucai, dan Syahdan berulang kali mengambil wudu,
sebenarnya dengan tujuan menghapus air mata. A Kiong melamun sendirian tak mau diganggu. Flo, yang baru saja mengenal Lintang dan tak mudah terharu tampak sangat muram. la menunduk diam, matanya berkaca-kaca.

Baru kali ini aku melihatnya sedih.

Kami melepas seorang sahabat genius asli didikan alam, salah seorang pejuang Laskar Pelangi lapisan tertinggi. Dialah ningrat di antara kami. Dialah yang telah menorehkan prestasi paling istimewa dan pahlawan yang mengangkat derajat perguruan miskin ini. Kuingat semua jejak kecerdasannya sejak pertama kali ia memegang pensil yang salah pada hari pertama sekolah, sembilan tahun yang lalu. Aku ingat semangat persahabatan dan kejernihan buah pikirannya. Dialah Newton-ku, Adam Smithku, Andre Ampereku.

Lintang adalah mercu suar. Ia bintang petunjuk bagi pelaut di samudra. Begitu banyak energi positif, keceriaan, dan daya hidup terpancar dari dirinya. Di dekatnya kami terimbas cahaya yang masuk ke dalam rongga-rongga otak, memperjelas penglihatan pikiran, memicu keingintahuan, dan membuka jalan menuju pemahaman. Darinya kami belajar tentang kerendahan hati, tekad, dan persahabatan. Ketika ia menekan tombol di atas meja mahoni pada lomba kecerdasan dulu, ia telah menyihir kepercayaan diri kami sampai hari ini, membuat kami berani bermimpi melawan nasib, berani memiliki cita-cita.

Lintang seumpama bintang dalam rasi Cassio-peia yang meledak dini hari ketika menyentuh
atmosfer. Ketika orang-orang masih lelap tertidur. Cahaya ledakannya menerangi angkasa raya, memberi terang bagi kecemerlangan pikiran tanpa seorang pun tahu, tanpa ada yang peduli.

Bagai meteor pijar ia berkelana sendirian ke planet-planet pengetahuan, lalu kelipnya meredup dalam hitungan mundur dan hari ini ia padam, tepat empat bulan sebelum ia menyelesaikan SMP. Aku merasa amat pedih karena seorang anak supergenius, penduduk asli sebuah pulau terkaya di Indonesia hari ini harus berhenti sekolah karena kekurangan biaya. Hari ini, seekor tikus kecil mati di lum-bung padi yang behimpah ruah.

Kami pernah tertawa, menangis, dan menari bersama di dalam lingkaran bayang kobaran api. Kami tercengang karena terobosan pemikirannya, terhibur oleh ide-ide segarnya yang memberontak, tak biasa, dan menerobos. Ia belum pergi tapi aku sudah rindu dengan sorot mata lucunya, senyum polosnya, dan setiap kata-kata cerdas dari mulutnya. Aku rindu pada dunia sendiri di dalam kepalanya, sebuah dunia kepandaian yang luas tak terbatas dan kerendahan hati yang tak bertepi.

Inilah kisah klasik tentang anak pintar dari keluarga melarat. Hari ini, hari yang membuat gamang seorang laki-laki kurus cemara angin sembilan tahun yang lalu akhirnya terjadi juga. Lintang, sang bunga meriam ini tak 'kan lagi melontarkan tepung sari. Hari ini aku kehilangan teman sebangku selama sembilan tahun. Kehilangan ini terasa lebih menyakitkan melebihi kehilangan A Ling, karena kehilangan Lintang adalah kesia-siaan yang mahabesar. Ini tidak adil. Aku benci pada mereka yang berpesta pora di Gedong dan aku benci pada diriku sendiri yang tak berdaya menolong Lintang karena keluarga kami sendiri melarat dan orangtua-orangtua kami harus berjuang setiap hari untuk sekadar menyambung hidup.

Ketika datang keesokan harinya, wajah Lintang tampak hampa. Aku tahu hatinya menjerit, meronta-ronta dalam putus asa karena penolakan yang hebat terhadap perpisahan ini. Sekolah, kawan-kawan, buku, dan pelajaran adalah segala-galanya baginya, itulah dunianya dan seluruh kecintaannya. Suasana sepi membisu, suara-suara unggas yang biasanya huh rendah di pohon filicium sore ini lengang. Semua hati terendam air mata melepas sang mutiara ilmu dari lingkaran pendidikan. Ketika kami satu per satu memeluknya tanda perpisahan, air matanya mengalir pelan, pelukannya erat seolah tak mau melepaskan, tubuhnya bergetar saat jiwa kecerdasannya yang agung tercabut paksa mening-galkan sekolah.

Aku tak sanggup menatap wajahnya yang pilu dan kesedihanku yang mengharu biru telah
mencurahkan habis air mataku, tak dapat kutahan-tahan sekeras apa pun aku berusaha. Kini ia menjadi tangis bisu tanpa air mata, pehh sekali. Aku bahkan tak kuat mengucapkan sepatah pun kata perpisahan. Kami semua sesenggukan. Bibir Bu Mus bergetar menahan tangis, matanya semerah saga. Tak setitik pun air matanya jatuh. Beliau ingin kami tegar. Dadaku sesak menahankan pemandangan itu. Sore itu adalah sore yang paling sendu di seantero Belitong, dari muara Sungai Lenggang sampai ke pesisir Pangkalan Punai, dari Jembatan Mirang sampai ke Tanjong Pandan. Itu adalah sore yang paling sendu di seantero jagad alam.

Saat itu aku menyadari bahwa kami se-sungguhnya adalah kumpulan persaudaran cahaya dan api. Kami berjanji setia di bawah halilintar yang menyambar-nyambar dan angin topan yang menerbangkan gunung-gunung. Janji kami tertulis pada tujuh tingkatan langit, disaksikan naga-naga siluman yang menguasai Laut Cina Selatan. Kami adalah lapisan-lapisan pelangi terindah yang pernah diciptakan Tuhan.

Edensor; Andrea Hirata : SEGITIGA TAK MUNGKIN

Arai, Weh, dan Mak Birah, bagiku seperti bangunan
segitiga tak mungkin, impossible triangle Oscar Reuters-
vard dengan dimensi yang susah diterjemahkan, dengan su-
dut-sudut yang mengandung anomali. Mak Birah, seorang
protagonis, amat menghargai kehidupan dan menganggap-
nya sebagai perayaan kebesaran Allah. Sebaliknya Weh, sang
antagonis, mengutuki hidupnya sendiri. Baginya, kelahiran
adalah keputusan aklamasi tanpa negosiasi dan selamatlah
manusia yang tak pernah lahir. Sedangkan Arai, ketika
orang yang senasib dengannya tersuruk-suruk,
ia malah memperlihatkan jiwa besar,
lebih dari siapa pun.
Hari ini, di kelas, Lone Ra-
nger itu menggenggam tangan-
ku kuat-kuat. Ia terpesona pa-
da benda yang dibawa guru sas-
tra SMA kami, Pak Balia.
"La originalidad consiste en volver al origen, Antoni Ga-
udi, maestro mozaik, Barcelona 1877."
Dengan gaya teatrikal, Pak Balia memikat murid-mu-
ridnya sambil mengelus benda itu—seekor iguana dari ta-
nah liat replika karya Gaudi.
"Orisinalitas berarti kembali pada bentuk orisinal."
Kulit iguana itu ditempeli ratusan mozaik berwarna-
warni dari pecahan kecil porselen: piring, kendi, tempayan,
dan ubin. Unik, ganjil, artistik.
"Murid-muridku, berkelanalah, jelajahi Eropa, jamah
Afrika, temukan mozaik nasibmu di pelosok-pelosok du-
nia. Tuntut ilmu sampai ke Sorbonne di Prancis, saksikan
karya-karya besar Antoni Gaudi di Spanyol."
Kalimat itu adalah letupan pertama angan-angan yang
menggelisahkan kami sepanjang waktu. Pungguk merin-
dukan bulan! Tapi kepribadian Arai membuatku selalu
berada di puncak Everest semangatku.
"Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-
mimpi itu," katanya. Esoknya Arai menumpang truk ke
Tanjong Pandan. la terbanting-banting di dalam bak, ber-
diri di celah tong-tong timah, hanya untuk membeli poster
Jim Morrison.
"Penyanyi kesayanganku, Kal!" Arai bangga mema-
merkan poster itu. Tak tampak lelah di matanya.
"Mengapa Jim Morrison, Rai?"
"Karena aku akan berjumpa dengannya, walau hanya
pusaranya, di Prancis!"
Arai yakin pada Jim Morrison, yakin pada Prancis,
dan yakin pada pujaan hatinya Zakiah Nurmala, perem-
puan yang selama tiga tahun di SMA ditaksirnya, dan sela-
ma tiga tahun itu pula ia ditolak. Tak pernah kujumpai
orang segigih Arai.

Suatu ketika, pada bulan puasa, kami harus pulang karena
ayahku sakit. Tak ada kendaraan yang dapat ditumpangi.
Kami berjalan kaki, tiga puluh kilometer dari kota tempat
SMA kami berada.
Matahari membara, tepat di atas kepala. Panas menje-
rang tanpa ampun, aspal meleleh. Perutku kosong, kerong-
kongan kering. Aku melangkah seperti rangka kayu yang
reyot. Pandangan berkunang-kunang. Kami kehausan dan
menderita dehidrasi, bahkan sudah tak lagi berkeringat.
Aku tak sanggup, waktu melewati danau aku ingin memba-
talkan puasaku.
"Jangan," sergah Arai tersengal-sengal.
la membopongku. Kami melangkah terseret-seret.
Aku tak mampu bertahan. Kembali melewati danau, aku
mendesak ingin minum.
"Jangan," sergah Arai.
"Jangan, Tonto, jangan menyerah."
Arai menaikkan tubuhku ke atas punggungnya. la me-
mikulku. Langkahnya limbung, terseok-seok berkilo-kilo
meter. la istirahat sebentar, lalu memikulku lagi.
Napasnya meregang satu per satu, hidungnya mendengus-dengus se-
perti hewan disembelih. Tumitnya mengucurkan darah ka-
rena terjepit jalinan kasar sepatu karet ban mobil. la me-
langkah terus, terhuyung-huyung. Tak sedikit pun ia mau
menyerah.
Sampai di rumah, aku terkapar tak berdaya. Arai ter-
senyum. Aku menatap matanya dalam-dalam. Tiba-tiba
Prancis rasanya dekat saja.

dicuplik dari buku Recode Your Change DNA; Rhenald Kasali : PEGAWAI NEGERI DAN SINDROMA PERUSAHAAN-PERUSAHAAN TUA

Terkunci dengan DNA yang tidak "berbuah" tentu saja bukan fenomena kaum Gypsy belaka. Di Eropa Timur saya juga menyaksikan pegawai-pegawai negeri yang malas dan sama sekali tidak ramah. Moscow, misalnya, adalah sebuah kota yang cantiknya tidak kalah dengan kota impian para wanita yang penuh dengan wewangian parfum: Paris. Perekonomian Moscow memang sudah sangat maju, bahkan kebebasan berpikir warganya sudah jauh lebih hebat dari orang-orang Eropa Barat. Tapi bagaimana pegawai-pegawai negeri menangani tamu-tamunya sungguh jauh di bawah standar. Di bandara Moscow, jantung Anda mungkin akan berdegup lebih keras ketimbang ketika mengelilingi Lapangan Merah yang dulu terkenal sebagai lambang kekuasaan komunis yang bengis. Satu-satunya peninggalan pemerintah komunis yang malas Senyum di Lapangan Merah cuma tinggal di Moseleum dengan jasad kamerad Lenin vans yang masih dijaga tentara. Selebihnya, sepanjang mata memandang di sekeliling Lapangan Merah hanya hamparan toko dan mal dengan merek-merek aneka busana fashion modern dari Amerika. DKNY, D & G, Esprit, Levi's, The Body Shop, Starbucks, Citibank dan sebagainya. Pedagang itu beserta pegawainya tentu jauh lebih ramah dan pasti tahu apa yang diinginkan calon pembeli. Kita beralih ke Bandara Moscow. Di sini jantung Anda akan berdegup keras manakala Anda berhadapan dengan petugas imigrasi sekadar untuk memperoleh stempel di paspor Anda sebelum meninggalkan negeri beruang ini. Sama sekali tiada senyum, dengan muka yang sangat tegang, kulit wajah mereka ditarik ke belakang. Bahkan sapaan manis seorang gadis cantik dengan ucapan "good morning" saja tak dijawabnya. Mereka cuma melihat dengan tatapan dingin, lalu sibuk membuka-buka paspor Anda. Lembar demi lembar dibuka, seakan-akan ia sedang mencari seorang pelarian yang hendak menerobos keluar dari tirai besi. Mereka tak peduli dengan kegelisahan kita yang menanti lama pada antrian yang terus memanjang ke belakang.

Kadang mereka setengah mengeluh, atau berteriak-teriak dengan suara agak berat memanggil petugas-petugas lainnya. Karena tak pandai berbahasa Inggris, maka mereka memberi perintah pada Anda dengan bahasa tubuh. Karena tangan dan tatapan matanya milik tentara, maka gerakannya sangat kaku. Itu semua membuat Anda yang antri – yang sebagian anggota keluarganya sudah berhasil lolos ke batas imigrasi - sangat cemas. Sementara itu petugas di kotak sebelah memilih untuk bercakap-cakap dengan sesame mereka ketimbang melayani. Berbeda benar dengan kasir-kasir di supermarket-atau toko-toko bermerek yang ramah dan segera membuka konter tambahan, manakala dilihatnya antrian di konter-konter lain sudah mulai memanjang. Seringkali saar bepergian ke luar negeri, misalnya, saya sengaja tidak membawa koper banyak, cukup yang saya tenteng saja. Dengan demikian saya bisa segera melompat keluar buru-buru dari bandara dan menemui keluarga. Tetapi kejadian-kejadian yang menjengkelkan selalu saja terjadi di konter-konter imigrasi kita.

Hampir setiap saat, saya melihat petugas imigrasi tidak ada di meja konter mereka. Saya terpaksa harus me-nunggu pada antrian paling depan, yang belum tentu petugas membuka konter itu. Mengapa mereka tidak duduk standby di konter-konter itu? Sudah begitu, mereka juga tidak terlatih unruk memberi Senyum, mengucapkan salam, atau bahkan membalas ucapan terimakasih. Warna konternya yang coklat muram, bersama-sama dengan penerangan bandara yang sungguh redup, membuat kita harus menahan amarah dan menyesali pelayanannya.
Lapangan Merah, di mana jenazah Lenin diawetkan dan dipertontonkan kepada para turis. Kadang saya berpikir, apa bedanya mereka dengan pegawai-pegawai negeri di negara kita?
Pengalaman ini mengingatkan saya mengenai pelayanan publik di bandara kita sendiri.

'Sadarkah Anda bahwa birokrasi bisa membunuh.' -Jeff lmelt- (CEO General Electric)

Pelayanan prima (service excellence) tidak dapat diperoleh begitu saja. Bintang lima identik dengan servis yang datang dari pekerja professional yang dibentuk dengan fondasi nilai-nilai yang kuat dan pelatihanpelatihan berkala. 'Lihatlah dengan mata kepala sendiri, tetapi percayalah nalurimu!' -Salomon Asch -

Mengapa Pegawai Negeri Sipil tak bisa memberi pelayanan prima berkelas Bintang lima? Itu hanya sekelumit kisah di pintu imigrasi. Kejadian-kejadian yang sama tentu juga kita saksikan di kantor-kantor kelurahan, kantor kecamatan, kantor polisi, bahkan kantor-kantor pelayanan kesehatan. Selain petugasnya tampak kurang bergizi dan tak bergairah, gedung-gedungnya tampak kusam, toiletnya tidak bersih dan lampunya redup. Setiap kali kita berhubungan, mata mata setengah curiga memandang begitu asing. Mereka tidak merasa perlu dengan kita, meski kita telah menjadi salah seorang yang membayar gaji mereka. Kejadian berikut ini kami alami sendiri pada awal tahun 2006 di sebuah kantor kelurahan. Kisah ini menjelaskan bagaimana sikap dan tanggung jawab petugas kelurahan terhadap inisiatif warganya. Pada saat itu saya dan keluarga baru saja membicarakan tentang kesehatan warga yang tinggal di daerah rumah tempat tinggal kami. Selain mengelola rumah baca untuk anak-anak di kampung, kebetulan istri saya juga menjadi pengurus posyandu. Sebagai pengurus, tentu ia paham betul apa yang dirasakan oleh sesama kaumnya menyangkut soal kesehatan. Apalagi Posyandu itu terletak di halaman rumah kami. Maka saya tak merasa heran bila belakangan ini saya melihat kegelisahan pada wajahnya.

Selain karena biaya mahal, warga yang tidak mampu juga mengeluh betapa sulitnya memperoleh surat keterangan dari RT/RW dan kelurahan. Maka kalau ada orang kampung yang harus dirawat inap, saya selalu menjadi tahu. Saya selalu menyaksikan ibu-ibu Posyandu saling berbagi dan mengurus pasien hingga bisa keluar dari rumah sakit. Menyadari hal itu maka kami mulai berpikir untuk menyelenggarakan sendiri pengobatan cuma-cuma. Tugas saya adalah
menyebarkan niat ini pada para kerabat dan mencari bantuan. Gayungpun berCNI ternyata tidak ingin tanggung-tang-gung. CNI menurunkan enam orang dok-ter, yang dibantu oleh sejumlah petugas medik pembantu serta membawa obat-obatan dalam jumlah besar. Tapi yang membuat saya bergairah, kami diberi target minimal harus mendatangkan se-ribu orang pasien oleh CNI. Saya dan istri segera melakukan persiapan. Waktunya pun sangat singkat, yaitu dua minggu. Kami segera mengundang teman-teman pengurus RT karena kebetulan saya dipercaya sebagai ketua Bamus (Badan Musyawarah). Seorang anggota polisi, pembina yang ditugaskan, memberitahu kami bahwa kegiatan serupa di kelurahan bebarapa waktu yang lalu, hanya diha-diri beberapa puluh orang saja. Ketua RT mengatakan beberapa waktu yang lalu salah satu partai politik melakukan kegiatan serupa hanya dikunjungi oleh 90 orang pasien. Bagaimana mungkin seribu orang?

Seperti biasa, saya selalu menem-patkan diri sebagai pemimpin yang optimis. Bagi saya apa saja selalu me-mungkinkan. Saya katakan, "Marilah kita belajar dari yang kemarin, tetapi kita juga harus menciptakan hal yang baru di masa depan. Jadi, mari kita bergerak untuk mencapai 1000 orang." Saya percaya jumlah orang yang membutuhkan pasti jauh lebih besar lagi, asalkan kita tidak mem-batasi mereka pada kotak-kotak etnik, agama, afiliasi kepartaian (politik), bahkan batasan wilayah (RT/RW/Kelurahan). Jadi sesama orang yang membutuhkan, asal mereka tidak mampu, welcome!

Semua orang pun mulai bergerak. Kami memberi pengumuman di masjid-masjid, gereja, sekolah, dan memasang beberapa buah spanduk. Supaya RT-RT dan RW-RW lain, atau kelurahan lain terlihat, maka kami mendekati kelurahan. Istri saya pun datang menghadap Pak Lurah. Di kelurahan, pak lurah sulit ditemui. Tapi sekretaris kelurahan siap mendukung dan mengatakan akan membantu. CNI adalah perusahaan dagang Indonesia yang memproduksi Sun Chlorella dan makanan kesehatan terbesar se- Indonesia yang dipasarkan melalui jaringan multilevel marketing dengan prinsip'kesungaian'. Ia beroperasi di 6negara, Indonesia, Malaysia, Singapura, India, Hongkong, dan China. Di Indonesia CNI punya ratusan ribu anggota aktif. Tahun 2006, sudah berusia 20 tahun. Lebih lanjut mengenal kesuksesan CNI, saya rekomendasikan baca "River Company: Apa yang Membedakan CNI dengan Perusahaan Kubangan",RhenaldKasali, 2006.
sambut. Bantuan itu datang dari perusahaan pembuat kopi ginseng yang disalur-kan lewat jaringan MLM, yaitu CNI. Petugas CNI segera datang dan mengatur rencana bersama. Kenyataan-kenyataan seperti di atas tentu tidak hanya terjadi di satu kelurah-an, mungkin terjadi di hampir semua kelurahan dan kecamatan. Bahkan sangat mungkin terjadi di hampir semua departemen-departemen dan lembaga-lembaga serta badan-badan usaha milik negara. Saya kira inilah saatnya me-Re-Code PNS dan pemerintahan kita. Tanpa upaya yang serius dari para menteri dan pejabat dalam memperbaharuinya, maka rakyat akan frustrasi. Padahal Re-Code di pemerintahan mustahil dikerjakan oleh seorang menteri saja atau seorang sekretaris jendral. Upaya ini memerlukan tindakan yang menyeluruh dan terpadu.
Pengobatan Gratis dari RIVER COMPANY
CNI Iayak dijuliki "River Company" karena ia bukan sekadar economic company atau marketing company, melainkan a social oriented com-pany. Ia membangun komunitas ekologis, memancarkan mata air bersih, dengan nilai—nilai yang kuat dan menembus batas. Tetapi di kantor kelurahan puluhan orang pegawainya meman-dang kami penuh curiga. Bahkan mereka tak berdiri dari tempat duduk masingmasing. Terkesan tidak peduli, tetapi dengan cepat menjawab "tidak tahu." Mereka cuma asyik membaca koran, meneguk kopi hangat, merokok dan berbicara di antara mereka. Keluar dari kantor kelurahan, ibu-ibu Posyandu merasa gerah. Mengapa petugas kelurahan tak peduli? Bukankah kegiatan ini sangat membantu peningkatan kinerja mereka? Dua hari berlalu, Pak Lurah yang ditunggu-tunggu tidak pernah mengunjungi kami, seminggu berlalu juga demikian. Padahal kita perlu berkoordinasi, dan kelurahan berjanji akan memanggil para ketua RT/RW serta menghubungi kelurahan lain. Yang dijanjikan tak pernah ada kelanjutannya. Sampai selesai pelaksanaan, lebih dari 1200 pasien hadir memperoleh pe-ngobatan, tapi tak satu pun petugas kelurahan yang muncul, atau terlibat. Bahkan hubungan dengan ketua-ketua RT dan ketua RW, semua dikerjakan oleh para warga. Hampir semua warga kami terlibat. Yang memiliki kendaraan menye-tir sendiri menjemput kakek/nenek yang sakit dan mengantarkan pulang. Yang memiliki peralatan musik meminjamkan sound system, dan seterusnya. Semua rakyat senang, keluarga-keluarga miskin pun tersenyum, tetapi sebuah pertanyaan tersisa dibibir mereka: Masihkah kita memerlukan pemerintah?

Pada organisasi-organisasi yang lebih strategis, para pemimpin sering mengeluh: "Kami ajak rapat malam hari mereka sudah pulang. Diminta menunggu, hanya separuh yang masih menunggu. Kalau dipaksa rapat, besoknya surat kaleng atau SMS kaleng yang mencaci maki pemimpinnya pun beredar luas."
"Kami beri perintah mengambil warna biru, yang diambil warna hijau. Kami minta hijau, yang datang merah.... Kita benar-benar perlu memimpin dengan penuh kesabaran."
"Anggaran sudah ada, tetapi mengapa tidak ada yang dibelanjakan? Mereka bilang takut tersangkut perkara dan ditangkap KPK..."
"Mereka senang bepergian, menghabiskan anggaran. Yang pergi dua orang tetapi SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) yang dibawa delapan buah. Ke mana sisa uang yang dikeluarkan...?" "Bantuan-bantuan teknis berupa mesin dan alat-alat dari pemerintah tak ada yang bisa dipakai. Alatnya terlalu rumit, cepat rusak dan tidak sesuai dengan kebutuhan..."
"Tsunami, gempa, banjir lumpur, gunung meletus, lalu Tsunami lagi,.... ke mana aparat pemerintah? Mengapa tenaga medis asing datang lebih cepat?"
'Perusahaan-perusahaan yang dikelola pemerintah selalu merugi atau dibuat rugi. Tapi mengapa mereka membuat lagi perusahaan-perusahaan baru?"

Semua komentar itu bila diteruskan hanya menimbulkan rasa frustrasi, marah dan sekaligus rasa tak berdaya dan malu. Mereka diterima melalui proses screening yang ketat. Sebagian besar mereka adalah lulusan universitas-universitas negeri terkenal di negeri ini. Tak jarang di antara mereka adalah orang-orang hebat yang dikenal di angkatan masing-masing di kampus-kampusnya. Memang kita tetap menemui orang-orang bagus di pemerintahan, tetapi jumlah mereka tidak banyak. Sebagian besar sulit berkembang, lebih memposisikan diri sebagai "follower" daripada "leader", dan hampir semua surat mereka selalu ditutup dengan kalimat "mohon petunjuk dan arahan bapak/ibu." Maka tak heran bila konsep-konsep baru menjadi sulit diperkenalkan apalagi dijalankan.

Apakah mereka saling menyesuaikan satu dengan yang lain? Apakah ada interaksi? Ternyata tidak. Sebagian orang mengatakan, semua penyebabnya adalah tak ada "pemimpin". Namun setelah mereka mendapat pemimpin baru yang berhasil dari luar pemerintahan, ternyata perubahan juga tak kunjung datang. Di badan-badan usaha milik negara juga banyak ditemui hal-hal serupa. Puluhan jenis pelatihan dan konsultan-konsultan kelas dunia telah dilibatkan. Tetapi
hanya sedikit yang berhasil keluar dari evolusi "penuaan" dan kembali agresif sehingga mampu bersaing di pasar. Sebagian perusahaan yang merupakan warisan dari zaman dulu (zaman Belanda) bahkan masih menggunakan peralatan, pabrik, kebun, metode bekerja, sampai produk-produk yang dihasilkan, sama persis dengan keadaan di masa lalu. Padahal tuntutan-tuntutan baru sudah berubah sama sekali.

Kalau sudah demikian, masih bisakah mereka bersikap ramah dan murah Senyum kepada publik? Masih bisakah kita bandingkan mereka dengan perusahaan- perusahaan modern yang kaya sentuhan dan sejahtera? Pejabat jangan terjebak dengan kekuasaan "memberi pengarahan" dan bawahan terbelenggu kebiasaan "mohon petunjuk". Saatnya mengubah cara berpikir dan memimpin. 'Saat Anda mengandalkan konsultan...
Ingat! Ia yang bekerja untuk organisasi.
Aneh... bila konsultannya yang dipuji-puji, anak buahnya yang dibodoh-bodohi.'

FAKTANYA, BADAN-BADAN PEMERINTAH TERDIRI ATAS ORANG-ORANG HEBAT. TETAPI MENGAPA ORGANISASINYA NYARIS LUMPUH?

Mereka tetap terbelenggu dengan tradisi lama, dan makin hari semakin lumpuh. Petugas sibuk dengan urusan administrasi. Pekerjaan banyak, gaji kecil tetapi boros, respons lamban, tingkat kesalahan cukup tinggi, kreativitas mandek, tapi kesejahteraan memburuk. Salahnya di mana?
Tetapi kenyataan ini bukan terjadi di pemerintahan saja. Banyak bisnis keluarga dan perusahaan besar yang ternyata sama saja. Setiap kali menghadapi masalah seperti ini, pikiran kita, apakah sebagai pemilik, anggota masyarakat, profesional atau pengamat, selalu diarahkan pada pentingnya mencari pemimpin yang ideal. Seakan-akan, dengan memperoleh seorang "super CEO", urusan akan beres. Sampai disini kita sering mengabaikan bahwa ja-nganjangan kita telah melupakan sesuatu yang sangat penting, yaitu unsur pembawa sifat yang membentuk organisasi.

September 24, 2009

Kahlil Gibran; The Prophet : WORK

Then a ploughman said, "Speak to us of Work."
And he answered, saying:
You work that you may keep pace with the earth and the soul of the earth.
For to be idle is to become a stranger unto the seasons, and to step out of life's procession, that marches in majesty and proud submission towards the infinite.
When you work you are a flute through whose heart the whispering of the hours turns to music.
Which of you would be a reed, dumb and silent, when all else sings together in unison?
Always you have been told that work is a curse and labour a misfortune.
But I say to you that when you work you fulfil a part of earth's furthest dream, assigned to you when that dream was born,
And in keeping yourself with labour you are in truth loving life,
And to love life through labour is to be intimate with life's inmost secret.
But if you in your pain call birth an affliction and the support of the flesh a curse written upon your brow, then I answer that naught but the sweat of your brow shall wash away that which is written.
You have been told also life is darkness, and in your weariness you echo what was said by the weary.
And I say that life is indeed darkness save when there is urge,
And all urge is blind save when there is knowledge,
And all knowledge is vain save when there is work,
And all work is empty save when there is love;
And when you work with love you bind yourself to yourself, and to one another, and to God.
And what is it to work with love?
It is to weave the cloth with threads drawn from your heart, even as if your beloved were to wear that cloth.
It is to build a house with affection, even as if your beloved were to dwell in that house.
It is to sow seeds with tenderness and reap the harvest with joy, even as if your beloved were to eat the fruit.
It is to charge all things you fashion with a breath of your own spirit,
And to know that all the blessed dead are standing about you and watching.
Often have I heard you say, as if speaking in sleep, "he who works in marble, and finds the shape of his own soul in the stone, is a nobler than he who ploughs the soil.
And he who seizes the rainbow to lay it on a cloth in the likeness of man, is more than he who makes the sandals for our feet."
But I say, not in sleep but in the over-wakefulness of noontide, that the wind speaks not more sweetly to the giant oaks than to the least of all the blades of grass;
And he alone is great who turns the voice of the wind into a song made sweeter by his own loving.
Work is love made visible.
And if you cannot work with love but only with distaste, it is better that you should leave your work and sit at the gate of the temple and take alms of those who work with joy.
For if you bake bread with indifference, you bake a bitter bread that feeds but half man's hunger.
And if you grudge the crushing of the grapes, your grudge distils a poison in the wine.
And if you sing though as angels, and love not the singing, you muffle man's ears to the voices of the day and the voices of the night.

Kahlil Gibran : M I M P I

Kala malam datang dan rasa kantuk membentangkan selimutnya di wajah bumi, aku bangun dan berjalan ke laut, "Laut tidak pernah tidur, dan dalam keterjagaannya itu laut menjadi penghibur bagi jiwa yang terbangun.", Ketika aku sampai dipantai, kabut dari gunung menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab yang menghiasi wajah seorang gadis. Aku melihat ombak yang berdesak-desakkan. Aku mendengarkan puji-pujiannya kepada Tuhan dan bermeditasi di atas kekuatan abadi yang tersembunyi di dalam ombak-ombak itu - kekuatan yang lari bersama angin, mendaki gunung, tersenyum lewatbibir sang mawar dan bernyanyi dengan desiran air yang mengalir di parit-parit. Lalu aku melihat tiga hantu duduk di atas sebuah bau. Aku menghampirinya seolah-olah ada kekuatan yang menarikku tanpa aku sanggup melawannya. Aku berhenti beberapa langkah dari hantu itu seakan-akan ada tenaga magis yang menahanku. Saaat itu, salah satu hantu bediri dan dengan suara yang seolah berasal dari dalam laut ia berkata: "Hidup tanpa cinta laiknya pohon yang tidak berbunga dan berbuah. Dan cinta tanpa keindahan seperti bunga tanpa aroma semerbak dan seperti buah tanpa biji. Hidup, cinta dan keindahan adalah tiga dalam satu, yang tidak dapat dipisahkan ataupun dirubah." Hantu kedua berkata dengan suara meraung seperti air terjun,"Hidup tanpa perlawanan seperti empat musim yang kehilangan musim seminya. Dan perlawanan tanpa hak seperti padang pasir yang tandus. Hidup, perlawanan dan hak adalah tiga dalam satu yang tidak dapat dipisahkan ataupun dirubah." Kemudian hantu ketiga membuka mulutnya seperti tepukan halilintar : "Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa jiwa, dan kebebasan tanpa akal seperti ruh yang kebingungan. Hidup, kebebasan dan akal adalah tiga dalam satu, abadi dan tidak pernah sirna." Selanjutnya ketiga-tiganya berdiri dan berkata dengan suara yang dahsyat berkata: 'Itulah anak-anak cinta, Buah dari perlawanan, Akibat dari kebebasan, Tiga manifestasi Tuhan, Dan Tuhan adalah ungkapan dari alam yang cerdas.' Saat itu diam melangut, hanya gemerisik sayap-sayap yang tak nampak dan bergetaran tubuh-tubuh halus, yang terus-menerus. Aku menutup mata dan mendengarkan gemar yang baru saja lewat. Ketika aku membuka mataku, aku tidak lagi melihat hantu-hantu itu, hanya laut yang dipeluk halimun. Aku duduk, tidak memandang apapun kecuali asap dupa yang menggulung ke surga.

Kahlil Gibran : PERJAMUAN JIWA

BANGUNLAH, Cintaku. Bangun! Karena jiwaku mengelu-elukanmu dari dasar laut, dan menawarkan padamu sayap-sayap diatas gelombang yang mengamuk. Bangunlah, karena sunyi telah menghentikan derap kaki kuda dan langkah para pejalan kaki. Rasa kantuk telah memeluk ruh setiap laki-laki, sementara aku terbangun sendiri, rasa rindu membukakan kertas surat tidurku. Cinta membawaku dekat dengamu, namun kecemasan melemparkan diriku menjauh darimu. Aku telah membuang bukuku, karena keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan tempat tidurku, Cintaku, karena takut pada hantu lupa yang berada di balik selimut. Aku telah membuang bukuku, karena keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan halaman buku yang kosong di depan mataku! Bangun, bangunlah, Cintaku dan dengar diriku! Aku mendengarkanmu, Cintaku! Aku mendengar panggilanmu dari lautan lepas dan merasakan lembutnya sentuhan sayapmu. Aku telah jauh dari ranjangku, beranjak ke tanah lapang, hingga embun membasahi kaki dan bajuku. Di sinilah aku berdiri, dibawah bunga-bunga pohon badam, memenuhi panggilan jiwamu. Bicaralah padaku, Cintaku, dan biarkan nafasmu menghirup angin gunung yang datang padaku dari lembah-lembah Libanon. Bicaralah. Tak ada yang akan mendengar selain diriku. Malam telah melarutkan semua manusia ditempat tidurnya. Surga telah menyulam temaram cahaya rembulan dan menghamparkannya ke seluruh daratan Libanon, Cintaku. Surga telah meriasnya dengan bayangan malam, jubah tebal membentang dihembus asap dari cerobong pabrik-pabrik, dihembus nafas kemarian, dan menggelarnya di telapak kota, Cintaku. Para penduduk telah pulas menggantang mimpi di gubug-gubugnya di tengah pohon-pohon kenari. Jiwa mereka mempercepat langkahnya mengejar negeri mimpi, Cintaku. Lelaki-lelaki lunglai memanggul emas, dan curamnya tebing yang akan dilaluinya melemaskan lutut mereka. Mata mereka mengantuk karena dililit kesulitan dan ketakutan. Mereka melemparkan tubuh ke tempat tidur sebagai tempat berlindung dari hantu-hantu yang menakutkan dan mengerikan, Cintaku. Hantu-hantu dari masa lalu bergentayangan di lembah-lembah. JIwa para raja dan nabi melintasi bukit-bukit. Pikiranku yang berhias kenangan menyingkap kekuatan bangsa Chaldea, kemegahan Arab. Di lorong-lorong gelap, jiwa-jiwa pencuri yang tegap berjalan, moncong-moncong nafsu ular berbisa muncul dari celah-celah benteng, dan rasa sakit berdengung kematian, muntah-muntah sepanjang jalan. Kenangan menyingkap tabir kelupaan dari mataku dan tampaklah Sodom yang menyjijikan, serta dosa-dosa Gomorah. Ranting-ranting berayun-ayun, Cintaku, dan desaunya bertemu dengan desiran anak sungai di lembah. Syair-syair Sulaiman, nada kecapi Daud dan tembang Ishak Al-Mausaili terngiang-ngiang di telinga kami. Jiwa anak-anak yang lapar di penginapan menggelapar, ibunya melenguh di atas kasur kesedihan, dan kekecewaan telah jatuh dari langit. Mimpi-mimpi kecemasan melanda hatri yang lemah. Aku mendengar rintihan pahitnya. Semerbak bunga melambai seiring nafas pohon-pohon cedar. Terbawa angin sepoi-sepoi menuju perbukitan, harum itu mengisi jiwa dengan kasih sayang dan meniupkan kerinduan untuk terbang. Tetapi racun dari rawa-rawa jug berkelana mengepul bersama penyakit. Seperti panah rahasia yang tajam, racun itu telah menembus perasaan an meracuni udara. Tanpa kusadari matahari telah mengucurkan cahaya pagi, Cintaku, dan jari-jari timur yang lentik menimang mata-mata orang yang terlelap. Cahaya itu memaksa mereka untuk membuka daun jendela dan menyibak hati dan kemenangan. Desa-desa, yang sedang tertidur dalam damai dan tenang di pundak-pundak lembah, bangun, lonceng-lonceng gereja berdentang memenuhi angkasa sebagai panggilan untuk mulai berdoa. Dan dari gua-gua, genta-genta juga berdentang, seolah-olah seluruh alam sedang berdoa bersama-sama dengan khusuknya. Anak-anak sapai telah keluar dari kandangnya, biri-biri dan kambing meninggalkan bangsalnya untuk menuai rumput yang berembun dan berkilatan cahaya. Penggembalanya mengikuti dari belakang sambil mengamatinya di balik ilalang. Di belakangnya lagi gadis-gadis bernyanyi seperti burung menyambut pagi. Kini tangan siang hari yang perkasa terbaring di atas kota. Korden telah disibak dari jendela dan pintu pun terbuka. Mata yang penat dan wajahlesu para penjahit telah siap di tempat kerjanya. Mereka merasakan kematian telah melanggar batas kehidupan mereka, dan roman muka yang layu menyiratkan ketakutan dan kekecewaan. Jalanan padat dengan jiwa-jiwa yang tamak dan tergesa-gesa, dan di mana-mana terdengar desingan besi, derak-derik roda dan siulan angin. Kota telah menajdi arena pertempuran di mana yang kuat menjegal yang lemah dan si kaya mengeksploitasi dan merajarela di atas si miskin. Betapa indah hidup ini, Cintaku, seperti hati penyair yang penuh dengan cahaya dan kelembutan hati. Dan betapa kerasnya hidup ini, Cintaku, seperti dada penjahat, yang berdebar karena selalu merasa khawatir dan takut.

Kahlil Gibran : BAGI SAHABATKU YANG TERTINDAS

Wahai engkau yang dilahirkan di atas ranjang kesengsaraan, diberi makan pada dada penurunan nilai, yang bermain sebagai seorang anak dirumah di rumah-rumah tirani, engkau yang memakan roti basimu dengan keluhan dan meminum air keruhmu bercampur dengan airmata yang getir. wahai serdadu yang diperintah oleh hukum yang tidak adil oleh lelaki yang meninggalkan istrinya, anak-anaknya yang masih kecil, sahabat-sahabatnya, dan memasuki gelanggang kematian demi kepentingan ambisi, yang mereka sebut 'kebutuhan'. Wahai penyair yang hidup sebagai orang asing dikampung halamannya, tak dikenal diantara mereka yang mengenalnya, yang hanya berhasrat untuk hidup diatas sampah masyarakat dan dari kesia-siaan atas permintaan dunia yang hanya tinta dan kertas. Wahai tawanan yang dijebloskan ke dalam kegelapan karena kejahatan kecil yang dibuat kejahatan besar oleh mereka yang membalas kejahatan dengan kejahatan, dibuang dengan kebijaksanaan yang ingin mempertahankan hak melalui cara-cara yang keliru. Dan engkau, Wahai wanita yang malang, yang kepadanya Tuhan menganugerahkan kecantikan. Masa muda yang tidak setia memandangnya dan menguntitmu, memperdayakan engkau, menanggulangi kemiskinanmu dengan emas. Ketika kau menyerah padanya, dia meninggalkanmu. Kau serupa mangsa yang gemetaran dalam cakar-cakar penurunan nilai dan keadaan yang menyedihkan. Dan kalian, teman-temanku yang rendah hati, para martir bagi hukum buatan manusia. Kau bersedih, dan kesedihanmu adalah akibat dari kebiadaban yang hebat, dari ketidakadilan sang hakim, dari tirani si kaya, dan dari keegoisan budak demi hawa nafsunya Jangan putus asa, karena dibalik ketidakadilan dunia ini, di balik persoalan, di balik awan gemawan, di balik ether, di balik semua hal ada suatu kekuatan yang tak lain adalah seluruh kadilan, segenap kelembutan, semua keramahan, segenap cinta kasih. Engkau laksana bunga yang tumbuh dalam bayangan. Segera angin yang lembut akan meniup dan membawa bebijianmu memasuki cahaya matahari tempat mereka yang akan menjalani suatu kehidupan indah. Engkau laksana pepohonan telanjang yang rendah karena berat dan bersama salju musim dingin. Lalu musim semi akan tiba menyelimutimu dengan dedaunan hijau dan berair banyak. Kebenaran akan mengoyak kerudung airmata yang menyembunyikan senyumanmu. Saudaraku, kuucapkan selamat datang padamu dan kuanggap hina para penindasmu.

Kahlil Gibran : ANTARA PAGI DAN MALAM HARI

TENANGLAH hatiku, karena angkasa tak mendengarkan. Tenanglah, karena ether dibebani dengan ratapan kesedihan. Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu. Tenanglah, karena hantu-hantu malam tak menghiraukan bisikan rahasiamu, dan arak-arakan bayangan tak berhenti dihadapan mimpi-mimpi. Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, karena dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, akan dicintai cahaya. Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.
--*--
DALAM mimpi aku melihat seekor murai bernyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus. Kulihat sekuntum bunga lili mengangkat kepala diatas salju. Kulihat seoranga bidadari telanjang menari di antara batu-batu kubur. Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak. Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. Ketika aku terjaga dan memandang sekitarku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, tapi tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia terbang. Kulihat langit menaburkan salju di atas padang dan lembah, dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku. Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. Tapi tak satu pun kulihat di sana yang bergoyang dalam tarian, juga tidak yang tertunduk dalam doa.
Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; ke manakah perginya kegembiraan dan kesenangan impian? Mengapa kesemarakan mimpi lenyap, dan bagaimana gambaran-gambarannya menghilang? Bagaimana mungkin jiwa tertahan sampai sang tidur membawa kembali hantu-hantu dari hasrat dan harapannya?
--*--
DENGARLAH hatiku, dan dengarlah ucapanku. Kemarin jiwaku adalah sebatang pohon yang kukuh dan tua, menghunjam akar-akarnya ke kedalaman bumi dan cabang-cabangnya mencengkeram ke arah yang tak terhingga. Jiwaku berbunga di musim semi, memikul buah pada musim panas. Pada musim gugur kukumpulkan buahnya di mangkuk perak dan meletakkannya di tengah jalan. Orang-orang yang lalu lalang mengambil dan memakan dari mereka, serta melanjutkan perjalanan mereka.
--*--
KALA musim gurugur berlalu dan gita pujinya berbalik menjadi lagu kematian dan ratapan, kutemukan bahwa orang-orang telah meninggalkan diriku kecuali satu-satunya buah di talam perak. Kuambil dia dan memakan, dan merasakan pahitnya bagai kayu gaharu, masam benak anggur hijau. Aku membatin,"Bencana bagiku, karena telah kutempatkan sebentuk laknat di mulut orang-orang, dan permusuhan dalam perutnya." Apa yang telah kaulakukan, jiwaku, dengan kemanisan akar-akarmu itu yang telah menyesap dari usus besar bumi, dengan wangian daun-daunmu yang telah meneguk cahaya matahari?" Lalu kucabut pohon jiwaku yang kukuh dan tua. Kucabut akarnya dari tanah liat yang di dalamnya dia telah bertunas dan tumbuh dengan subur. Kucabut akar dari masa lampaunya, menanggalkan kenangan seribu musim semi dan seribu musim gugur. Dan kutanam sekali lagi pohon jiwaku di tempat lain. Kutanam dia di padang yang tempatnya jauh dari jalan-jalan waktu. Kulewatkan malam dengan terjaga di sisinya, sambil berkata,"Mengamati bersama malam yang membawa kita mendekati bintang-gemintang." Aku memberinya minum dengan darah dan airmataku, sambil berkata,"Terdapat sebentuk keharuman dalam darah, dan dalam airmata sebentuk kemanisan."Tatkala musim semi tiba, jiwaku berbunga sekali lagi”.
--*--
PADA musim panas jiwaku menyandang buah. Tatkla musim gugur tiba, kukumpulkan buah-buahnya yang matang di talam emas dan meletakkan mereka di tengah jalan. Orang-orang melintas, satu demi satu atau dalam kelompok-kelompok, tapi tak satu pun mengulurkan tangannya untuk ambil bagian atas penawaran. Lalu kuambil sebuah dan memakannya, meraskan manisnya bagai madu pilihan, lezat seperti musim semi dari surga, sangat menyenangkan laksana anggur Babilonia, wangi bak wangi-wangian dari melati. Aku menjerit,"Orang-orang tak menginginkan berkah pada mulutnya atau kebenaran dalam usus mereka, karena berkah adalah putri airmata dan kebenaran putra darah!" Lalu aku beralih dan duduk di bawah bayangan pohon sunyi jiwaku di sebuah padang yang tempatnya jauh dari jalan waktu.
--*--
TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba. Tenanglah, karena langit memberontaki bau amis kematian dan tak bisa meminum napasmu. Dengarkan, hatiku, dan dengarkan aku bicara. Kemarin pikiranku adalah kapal yang terombang-ambing oleh gelombang laut dan digerakkan oleh angin dari pantai ke pantai. Kapal pikiranku kosong kecuali untuk tujuh cawan yang dilimpahi dengan warna-warna, cemerlang bagai warna-warni bianglala. Sang waktu datang kala aku merasa jemu mengapung di atas permukaan laut dan berkata, "Aku akan kembali ke kapal kosong pikiranku menuju pelabuhan kota tempat aku dilahirkan."
--*--
Aku mulai mengecat sisi-sisi kapalku dengan warna-warni - kuning matahari terbenam, hijau musim semi baru, biru kubah langit, merah senjakala yang menjadi kecil. Pada layar dan kemudinya kukesankan sosok-sosok menakjubkan, menyenangkan mata dan menyamankan penglihatan. Tatkla kerjaku selesai, kapal pikiranku laksana pandangan luas seorang nabi, berputar dalam ketidakterbatasan laut dan langit. Kumasuki pelabuhan kotaku, dan orang muncul menemuiku dengan pujian dan rasa terima kasih. Mereka membawaku ke dalam kota, memukul genderang dan meniup seruling. Ini mereka lalukan karena bagian luar kapalku yang didekorasi dengan cemerlang, tapi tak seorang pun masuk ke dalam kapal pikiranku. Tak seorang pun menanyakan apakah yang kubawa dari seberang lautan Tak seorang pun tahu kenapa aku kembali dengan kapal kosongku ke pelabuhan. Lalu kepada diriku sendiri, aku berkata,"Aku telah menyesatkan orang-orang, dan dengan tujuh cawan warna telah kudustai mata mereka"
--*--
Setelah setahun aku naiki kapal pikiranku dan menaruh di laut untuk kedua kalinya. Aku berlayar menuju pulau-pulau timur, dan mengisi kapalku dengan dupa dan kemenyan, pohon gaharu dan kayu cendana. Aku berlayar menuju pulau-pulau barat, dan membawa bijih emas dan gading, batu merah delima dan zamrud, dan sulaman serta pakaian warna merah lembayung. Dari pulau-pulau selatan aku kembali dengan rantai dan pedang tajam, tombak-tombak panjang, serta beraneka jenis senjata. Aku mengisi kapal pikiranku dengan harta benda dan barang-barang langka bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku, sambil berkata, "Orang-orangku pasti akan memujiku, memamng sudah sepantasnya. Mereka akan menggendongku ke dalam kota sambil menyanyi dan meniup terompet, tapi sudah sepantasnya."Tapi ketika aku tiba di pelabuhan, tak seorangpun keluar menjumpaiku. Ketika kumasuki jalan-jalan kota, tak seorang pun memperhatikan diriku. Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahwa aku membawa buah dan kekayaan bumi. Mereka memandangku, mulutnya penuh tawa, cemoohan pada wajah mereka. lalu mereka berpaling dariku. Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung. Tak lama kemudian aku melihat kapalku maka aku melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang menghalangi perhatianku. Aku menjerit. Gelombang laut telah mencuri cat dari sisi-sisi kapalku, tak menyisakan apa pun kecuali tulang belulang yang mengelantang. Angin, badai dan terik matahari telah menghapus lukisanplukisan dari layar, menyisakan mereka seperti pakaian berwarna kelabu dan usang. Kukumpulkan barang-barang langka dan kekayaan bumi ke dalam sebuah perahu yang mengambang di atas permukaan air. Aku kembali ke orang-orangku, tapi mereka menolak diriku karena matanya hanya melihat bagian luar. Pada saat itu kutinggalkan kapal pikiranku dan pergi ke kota kematian. Aku duduk di antara kuburan-kuburan yang bercat kapur, merenungkan raharia-rahasianya.
--*--
TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba. Tenanglah, meskipun prahara yang mengamuk mencerca bisikan-bisikan batinmu, dan gua-gua lembah takkan menggemakan bunyi suaramu. Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. Karena dia yang menantikan dengan sabar hingga fajar, pagi hari akan memeluknya dengan bergairah. NUN di sana! Fajar merekah, hatiku. Bicaralah, jika kau mampu bicara! Itulah arak-arakan sang fajar, hatiku! Akankah hening malam melumpuhkan kedalaman hatimu yang menyanyi menyambut fajar? Lihatlah kawanan merpati dan burung murai melayang di atas lembah. Akankah kengerian malam menghalangi engkau untuk menduduki sayap bersama mereka? Para pengembala memandu kawanan dombanya dari tempat ternak dan kandang. Akankah hantu-hantu malam menghalangimu untuk mengikuti mereka ke padang rumput hijau? Anak lelaki dan perempuan bergegas menuju kebun anggur. Kenapa kau tak beranjak dan berjalan bersama mereka? Bangkitlah, hatiku, bangkit dan berjalan bersama fajar, karena malam telah berlalu. Teror malam lenyap bersama mimpi gelapnya. Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, karena hanya anak-anak kegelapan yang gagal menyatu ke dalam himne sang fajar.