“Kau beri nama siapa bayimu, Jo ?”
Begitulah pertanyaan yang kerap didengar oleh Paijo akhir-akhir ini. Maklumlah, Paijo adalah calon bapak muda dari anak yang dikandung istrinya, yang kini kandungannya sudah memasuki bulan yang ke tujuh. Tetangga kanan-kiri, teman sekantor, saudara-saudara, bahkan orang tua dan kakek-neneknya pun menanyakan hal serupa dengan pertanyaan yang hampir sama.
Tapi Paijo kan orangnya arif dan bijaksana. Dia hanya tesenyum saja menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu. Bahkan ada yang agak “kelewatan” dengan memberikan usul agar nama bayinya ini atau anu. Tapi itulah Paijo, dengan senyuman yang selalu tersungging di pipi, meskipun jauh dari manis, tetap tersenyum saja mendengar usulan-usulan itu.
Paijo adalah laki-laki yang dilahirkan dari keluarga feodal-agamis, dengan nuansa santri yang sangat kental sekali. Bapak dan ibunya sudah tiga kali naik haji. Dia anak terakhir dari 10 bersaudara. Bapaknya seorang kyai di daerahnya. Tak berbeda dengan Paijo, istinya, Sophia, juga lahir dan besar di lingkungan santri, sebab Bapak-ibunya juga seorang tokoh agama di daerahnya. Memasuki masa remaja, Paijo merantau ke kota untuk bersekolah di Universitas yang dirasa baik olehnya. Di sinilah Paijo dan istrinya bertemu dan singkat cerita mereka menjadi suami-istri dan menetap di kota tempat mereka dulu menimba ilmu dan mencari nafkah di masa sekarang.
“kamu beri nama siapa calon bayimu, Jo ?”.
Pertanyaan itu kembali terngiang lagi ditelinganya tatkala dia memandangi perut istrinya yang semakin membesar itu.
“Beckham saja Jo, biar nanti seperti beckham, wis ngganteng, kaya lagi”.
Begitu salah satu temannya yang gila bola memberi usul. Seperti yang sudah-sudah, Paijo hanya tersenyum saja, tak mengiyakan juga tak membantah.
Jujur bahwa Paijo sama sekali belum merencanakan nama untuk jabang bayinya itu. Walah... padahal kelahiran sang jabang bayi sudah tinggal menunggu hitungan hari saja. Dia tahu bahwa jabang bayi itu laki-laki. Hasil USG yang mengatakan demikian. Namun Paijo belum memikirkan siapa nama bayi yang bakal diberikannya. Yang dia pikirkan hanya rasa heran, kenapa semuanya berlomba-lomba untuk mengusulkan nama bagi bayinya. “Ah…. Ini hanya bentuk dari perhatian mereka kepadaku, mereka sungguh sangat baik”. Begitulah yang selalu dianggap Paijo setiap ada pertanyaan atau usulan tentang nama jabang bayinya. Dan sama sekali, sekali lagi, terlintas dibenaknya mengeani apa nama yang akan diberikan kepada bayinya itu, wah…. Sungguh sangat santai sekali si Paijo ini.
“Minggu besok kamu datang kesini, Bapak ingin membicarakan sesuatu dengan kamu dan istrimu, Eyangmu juga akan kesini”.
Begitulah telpon yang baru saja diterima Paijo dari orang tuanya. Ada apa ya ? kenapa kok Eyang juga perlu denganku? Dapat warisan kah ? begitulah, fikiran Paijo menari-nari, hatinya menerka-nerka, ada apa gerangan minggu besok?. Sampai melibatkan Eyang segala.
Begitulah, hari minggu datang. Paijo segera berangkat ke rumah orang tuanya yang berjarak 75 km dari kotanya dengan naik bis. Maklumlah, kendaraannya hanya motor. Bagaimana dia hendak naik motor dengan kondisi istri yang sedang hamil tua seperti itu?. Setelah 2 jam perjalanan sampai juga ia di daerah kelahirannya 28 tahun silam.
Setelah sungkem kanan-kiri, mulailah mereka terlibat dalam pembicaraan serius layaknya delegasi Palestina dan Israel yang sedang bertemu di meja perundingan. Ujung dari pembicaraan itu adalah, si Bapak memberi usul, yang bersifat wajib, agar nama anaknya ada “Arief”nya, dengan alasan agar kelak si anak tumbuh menjadi laki-laki yang arief, bijaksana, dan bila punya pabrik selalu memperhatikan kesejahteraan karyawannya dan selalu pas waktu bila menaikkan gaji karyawannya.
Sedang si Eyang usul agar nama “Bimo” juga diikut sertakan, dengan harapan bahwa kelak si anak menjadi laki-laki yang gagah berani, jujur, dan pandai, paling tidak dengan nama itu si anak kelak menjadi terkenal, kan Bimo sudah menjadi merknya jamu kuat kan?. Ding…. Dung…. Inti dari pembicaraan tersebut terungkap sudah.
Paijo, dengan senyum khasnya dan sikap kelemar-kelemernya mengucapkan terima kasih atas urun rembug para orang tua di depannya untuk nama bayinya. Namun dengan sekali berucap dia menyatakan menolak nama itu, meskipun di rasa nama-nama tersebut bila dijadikan satu akan menjadi nama yang bagus dan bermakna. Inilah Paijo, bila sudah menolak, meskipun dicium Pamela Anderson 3 jam pun dia tetap menolak.
Dia berargumen bahwa cukuplah bagi Bapaknya untuk memberi nama, apa masih kurang bagi beliau yang sudah memberi nama kepada 10 anak-anaknya. Bahkan dia pun tak menolak ketika bayi dulu diberi nama Paijo, lengkapnya, Ahmad Paijo Sulaeman Madjid Agung (awas bacanya keliru: Masjid Agung). Begitu juga kepada Eyangnya, apa beliau belum cukup puas juga dengan sudah memberi nama kepada Bapaknya dan saudara-saudara Bapaknya. Apa dia tega merampas hak Paijo, yang untuk pertama kalinya punya anak, untuk memberi nama yang bukan dari Paijo sendiri. Paijo hanya ingin nama yang 100 % adalah hasil pemikiran, kreasi, imajinasi, dan pengalaman spiritual dari dia sendiri dan istrinya, bukan dari orang lain, bahkan orang tua dan Eyangnya pun tak punya hak untuk memberikan nama. Urun rembug boleh saja, tapi terserah Paijo, nama tersebut dipakai atau tidak.
Tapi dasar Paijo, yang jaman mahasiswanya dulu adalah korlapnya demo, bacaan yang sudah dilahapnya dari kitab-kitab keagamaan seperti Riadhus Shalihin, Bidayatul Bidayah sampai ke The Prophet-nya Kahlil Gibran (yang selalu menginspirasi dia), Das Kapitalism-nya Karl Marx, Dialektika logika-nya-Friedrich Engels, dan lain-lain. Menolak nama-nama pemberian orang tua dan Eyangnya itu. Dia bertekat bulat; sejelek apapun nama yang bakal diberikannya, apa itu Fuckin Martinez kek, Adam santiago kek, Ahmad Yohanes kek, semua adalah haknya dan istrinya yang tidak bisa diganggu gugat.
Begitulah akhir dari “rapat” keluarga tersebut. Paijo dan istri pulang dengan “demokrasi” dan “hak” yang tetap akan selalu dipegannya meskipun melalui “perjuangan” berhadapan dengan orang tua dan orangtua dari orang tuanya. Dan…. Bersyukurlah sang anak kelak sebab dia dilahirkan dari orang tua yang “melek” demokrasi.
Hello world!
10 tahun yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar