September 25, 2009

Maryamah Karpov; Andrea Hirata : CARA PANDANG

SEPANJANG hari aku melamunkan kejadian di imarahi Ibu pagi tadi. Puluhan tahun aku menyandang nama Hirata, baru hari ini aku mafhum maksudnya. Selama ini aku selalu menduga nama itu dilekatkan pada nama depanku karena orangtuaku ingin aku pintar seperti orang Jepang. Atau karena Hirata bagus kedengarannya, tak ketinggalan zaman, modern. Sering pula kusangka nama itu diambil dari seorang Jepang pahlawan, seniman maestro, atlet pencetak rekor, seorang ilmuwan discoverer yang menaklukkan Kutub Utara atau seorang inventor—penemu obat tangkal bengek, seorang dokter hebat, atau profesor penemu magic Jar, alat penetas telur, peninggi badan, atau paling tidak pencegah botak. Rupanya, seperti sangkaku akan wajahku dulu, anggapanku akan nama pun telah mengalami overvaM Menyadari akhirat lekat dalam namaku, begitu dekat, aku berdebar-debar. Hari ini aku berjumpa dengan Lintang di Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi untuk membicarakan desain perahu. Kusampaikan padanya bahwa aku tak pirnya konsep bagaimana membuat perahu. Tingkat kesulitan membuatnya dan kemegahan perahu Mapangi telah memblok mentalku. Lintang yang sejak dulu selalu bisa membaca pikiranku, menghirup kopinya, santai saja. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Menit demi menit berlalu, tapi inilah situasi yang selalu kurindukan darinya, selalu kunanti-nanti. Sebab aku tahu, sebentar lagi sesuatu yang amat cemerlang pasti segera meluncur dari mulut pintarnya itu. Sementara di luar warung kopi, Nurmi membawakan lagu Semalam di Malaysia, Indah mendayu-dayu. "Lihatlah Nurmi main biola," kata Lintang tenang. 'Tahukah kau, Boi? Biola adalah instrumen yang amat susah dimainkan. Pemainnya harus punya feeling yang kuat untuk menemukan nada Sebab tak ada pedoman posisi nada seperti pada gitar. Tangan kanan menggesek, jemari kiri menekan dawai, itu tak mudah, karena dua macam gerak mekanika yang berbeda. Jarak dawainya pun amat dekat, maka gampang sekali suaranya distorsi. Jangankan menemukan nada yang pas, menggeseknya dengan benar saja memerlukan latihan lama. Orang yang tak berjiwa musik, tak kan dapat memainkan biola." Aku menyimak kisah biola ini, tapi belum dapat kulihat hubungan biola Nurmi dengan peraku Mapangi. 'Jika kau ingin belajar main biola dengan memikirkan bagaimana Nurmi bisa membawakan lagu Semalam di Malaysia seindah itu, kau tak kan bisa melakukannya. Bagaimana kau dapat menemukan presisi nada seperti Nurmi? Bagaimana kau dapat menemukan koordinasi gerak mekanikamu? Sehingga muncul vibrasi yang menakjubkan itu? Begitulah caramu melihat perahu Mapangi selama ini."
Mulai menarik. Lintang mengulum senyum khasnya. "Barangkah akan lebih mudah jika kita berpikir bahwa biola adalah alat musik akustik yang berbunyi karena getaran. Tangga nadanya merupakan konsekuensi dari panjang-pendek gelombang akibat jemari yang memencet dawai bergerak dalam jarak tertentu ke depan atau belakang stang-nya. Dengan melatih terus jemari agar konsisten denganjarak tertentu itu, begitulah kita akan menemukan nadanya" Membuat sesuatu yang rumit menjadi begitu sederhana adalah keahlian khusus Lintang yang selalu membuatku iri. "Kesulitan akan gampang dipecahkan dengan mengubah cara pandang, Boi." Aku teringat, serupa ini pula Lintang dulu memecahkan hambatan kami sekelas belajar bahasa Inggris. "Begitu pula perahu," katanya dengan mata pintarnya yang berkilauan. "Jika kepalamu selalu dipenuhi oleh hebatnya kapal Bulukumba Mapangi, tak kan mampu kaubuat perahu itu. Mulai sekarang kau harus berpikir bahwa perahu, apa pun bentuknya, adalah sebuah bangun geometris yang tunduk pada dalil-dalil hidrodinamika. Berangkadah dari sana Kau harus berangkat dari sebuah pernikihan hidrodinamika!" Aku terpukau karena kagum. Betapa genius orang udik di depanku an? Mengapa aku tak pernah berpikir dengan cara sep^i Lelaki pandai yang rendah hati itu tersenyum kecil saja melihatku terperangah. Ia mohon diri sembari memberikan petuah terakhirnya. Tempatkan dirimu sebagai ilmuwan, Boi, bukan sebagai pembuat perahu. Dengan ilmu, perahumu akan lebih hebat daripada perahu Mapangi!"

Tidak ada komentar: