September 24, 2009

Kahlil Gibran : PERJAMUAN JIWA

BANGUNLAH, Cintaku. Bangun! Karena jiwaku mengelu-elukanmu dari dasar laut, dan menawarkan padamu sayap-sayap diatas gelombang yang mengamuk. Bangunlah, karena sunyi telah menghentikan derap kaki kuda dan langkah para pejalan kaki. Rasa kantuk telah memeluk ruh setiap laki-laki, sementara aku terbangun sendiri, rasa rindu membukakan kertas surat tidurku. Cinta membawaku dekat dengamu, namun kecemasan melemparkan diriku menjauh darimu. Aku telah membuang bukuku, karena keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan tempat tidurku, Cintaku, karena takut pada hantu lupa yang berada di balik selimut. Aku telah membuang bukuku, karena keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan halaman buku yang kosong di depan mataku! Bangun, bangunlah, Cintaku dan dengar diriku! Aku mendengarkanmu, Cintaku! Aku mendengar panggilanmu dari lautan lepas dan merasakan lembutnya sentuhan sayapmu. Aku telah jauh dari ranjangku, beranjak ke tanah lapang, hingga embun membasahi kaki dan bajuku. Di sinilah aku berdiri, dibawah bunga-bunga pohon badam, memenuhi panggilan jiwamu. Bicaralah padaku, Cintaku, dan biarkan nafasmu menghirup angin gunung yang datang padaku dari lembah-lembah Libanon. Bicaralah. Tak ada yang akan mendengar selain diriku. Malam telah melarutkan semua manusia ditempat tidurnya. Surga telah menyulam temaram cahaya rembulan dan menghamparkannya ke seluruh daratan Libanon, Cintaku. Surga telah meriasnya dengan bayangan malam, jubah tebal membentang dihembus asap dari cerobong pabrik-pabrik, dihembus nafas kemarian, dan menggelarnya di telapak kota, Cintaku. Para penduduk telah pulas menggantang mimpi di gubug-gubugnya di tengah pohon-pohon kenari. Jiwa mereka mempercepat langkahnya mengejar negeri mimpi, Cintaku. Lelaki-lelaki lunglai memanggul emas, dan curamnya tebing yang akan dilaluinya melemaskan lutut mereka. Mata mereka mengantuk karena dililit kesulitan dan ketakutan. Mereka melemparkan tubuh ke tempat tidur sebagai tempat berlindung dari hantu-hantu yang menakutkan dan mengerikan, Cintaku. Hantu-hantu dari masa lalu bergentayangan di lembah-lembah. JIwa para raja dan nabi melintasi bukit-bukit. Pikiranku yang berhias kenangan menyingkap kekuatan bangsa Chaldea, kemegahan Arab. Di lorong-lorong gelap, jiwa-jiwa pencuri yang tegap berjalan, moncong-moncong nafsu ular berbisa muncul dari celah-celah benteng, dan rasa sakit berdengung kematian, muntah-muntah sepanjang jalan. Kenangan menyingkap tabir kelupaan dari mataku dan tampaklah Sodom yang menyjijikan, serta dosa-dosa Gomorah. Ranting-ranting berayun-ayun, Cintaku, dan desaunya bertemu dengan desiran anak sungai di lembah. Syair-syair Sulaiman, nada kecapi Daud dan tembang Ishak Al-Mausaili terngiang-ngiang di telinga kami. Jiwa anak-anak yang lapar di penginapan menggelapar, ibunya melenguh di atas kasur kesedihan, dan kekecewaan telah jatuh dari langit. Mimpi-mimpi kecemasan melanda hatri yang lemah. Aku mendengar rintihan pahitnya. Semerbak bunga melambai seiring nafas pohon-pohon cedar. Terbawa angin sepoi-sepoi menuju perbukitan, harum itu mengisi jiwa dengan kasih sayang dan meniupkan kerinduan untuk terbang. Tetapi racun dari rawa-rawa jug berkelana mengepul bersama penyakit. Seperti panah rahasia yang tajam, racun itu telah menembus perasaan an meracuni udara. Tanpa kusadari matahari telah mengucurkan cahaya pagi, Cintaku, dan jari-jari timur yang lentik menimang mata-mata orang yang terlelap. Cahaya itu memaksa mereka untuk membuka daun jendela dan menyibak hati dan kemenangan. Desa-desa, yang sedang tertidur dalam damai dan tenang di pundak-pundak lembah, bangun, lonceng-lonceng gereja berdentang memenuhi angkasa sebagai panggilan untuk mulai berdoa. Dan dari gua-gua, genta-genta juga berdentang, seolah-olah seluruh alam sedang berdoa bersama-sama dengan khusuknya. Anak-anak sapai telah keluar dari kandangnya, biri-biri dan kambing meninggalkan bangsalnya untuk menuai rumput yang berembun dan berkilatan cahaya. Penggembalanya mengikuti dari belakang sambil mengamatinya di balik ilalang. Di belakangnya lagi gadis-gadis bernyanyi seperti burung menyambut pagi. Kini tangan siang hari yang perkasa terbaring di atas kota. Korden telah disibak dari jendela dan pintu pun terbuka. Mata yang penat dan wajahlesu para penjahit telah siap di tempat kerjanya. Mereka merasakan kematian telah melanggar batas kehidupan mereka, dan roman muka yang layu menyiratkan ketakutan dan kekecewaan. Jalanan padat dengan jiwa-jiwa yang tamak dan tergesa-gesa, dan di mana-mana terdengar desingan besi, derak-derik roda dan siulan angin. Kota telah menajdi arena pertempuran di mana yang kuat menjegal yang lemah dan si kaya mengeksploitasi dan merajarela di atas si miskin. Betapa indah hidup ini, Cintaku, seperti hati penyair yang penuh dengan cahaya dan kelembutan hati. Dan betapa kerasnya hidup ini, Cintaku, seperti dada penjahat, yang berdebar karena selalu merasa khawatir dan takut.

Tidak ada komentar: