TENANGLAH hatiku, karena angkasa tak mendengarkan. Tenanglah, karena ether dibebani dengan ratapan kesedihan. Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu. Tenanglah, karena hantu-hantu malam tak menghiraukan bisikan rahasiamu, dan arak-arakan bayangan tak berhenti dihadapan mimpi-mimpi. Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, karena dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, akan dicintai cahaya. Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku.
--*--
DALAM mimpi aku melihat seekor murai bernyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus. Kulihat sekuntum bunga lili mengangkat kepala diatas salju. Kulihat seoranga bidadari telanjang menari di antara batu-batu kubur. Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak. Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. Ketika aku terjaga dan memandang sekitarku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, tapi tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia terbang. Kulihat langit menaburkan salju di atas padang dan lembah, dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku. Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. Tapi tak satu pun kulihat di sana yang bergoyang dalam tarian, juga tidak yang tertunduk dalam doa.
Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; ke manakah perginya kegembiraan dan kesenangan impian? Mengapa kesemarakan mimpi lenyap, dan bagaimana gambaran-gambarannya menghilang? Bagaimana mungkin jiwa tertahan sampai sang tidur membawa kembali hantu-hantu dari hasrat dan harapannya?
--*--
DENGARLAH hatiku, dan dengarlah ucapanku. Kemarin jiwaku adalah sebatang pohon yang kukuh dan tua, menghunjam akar-akarnya ke kedalaman bumi dan cabang-cabangnya mencengkeram ke arah yang tak terhingga. Jiwaku berbunga di musim semi, memikul buah pada musim panas. Pada musim gugur kukumpulkan buahnya di mangkuk perak dan meletakkannya di tengah jalan. Orang-orang yang lalu lalang mengambil dan memakan dari mereka, serta melanjutkan perjalanan mereka.
--*--
KALA musim gurugur berlalu dan gita pujinya berbalik menjadi lagu kematian dan ratapan, kutemukan bahwa orang-orang telah meninggalkan diriku kecuali satu-satunya buah di talam perak. Kuambil dia dan memakan, dan merasakan pahitnya bagai kayu gaharu, masam benak anggur hijau. Aku membatin,"Bencana bagiku, karena telah kutempatkan sebentuk laknat di mulut orang-orang, dan permusuhan dalam perutnya." Apa yang telah kaulakukan, jiwaku, dengan kemanisan akar-akarmu itu yang telah menyesap dari usus besar bumi, dengan wangian daun-daunmu yang telah meneguk cahaya matahari?" Lalu kucabut pohon jiwaku yang kukuh dan tua. Kucabut akarnya dari tanah liat yang di dalamnya dia telah bertunas dan tumbuh dengan subur. Kucabut akar dari masa lampaunya, menanggalkan kenangan seribu musim semi dan seribu musim gugur. Dan kutanam sekali lagi pohon jiwaku di tempat lain. Kutanam dia di padang yang tempatnya jauh dari jalan-jalan waktu. Kulewatkan malam dengan terjaga di sisinya, sambil berkata,"Mengamati bersama malam yang membawa kita mendekati bintang-gemintang." Aku memberinya minum dengan darah dan airmataku, sambil berkata,"Terdapat sebentuk keharuman dalam darah, dan dalam airmata sebentuk kemanisan."Tatkala musim semi tiba, jiwaku berbunga sekali lagi”.
--*--
PADA musim panas jiwaku menyandang buah. Tatkla musim gugur tiba, kukumpulkan buah-buahnya yang matang di talam emas dan meletakkan mereka di tengah jalan. Orang-orang melintas, satu demi satu atau dalam kelompok-kelompok, tapi tak satu pun mengulurkan tangannya untuk ambil bagian atas penawaran. Lalu kuambil sebuah dan memakannya, meraskan manisnya bagai madu pilihan, lezat seperti musim semi dari surga, sangat menyenangkan laksana anggur Babilonia, wangi bak wangi-wangian dari melati. Aku menjerit,"Orang-orang tak menginginkan berkah pada mulutnya atau kebenaran dalam usus mereka, karena berkah adalah putri airmata dan kebenaran putra darah!" Lalu aku beralih dan duduk di bawah bayangan pohon sunyi jiwaku di sebuah padang yang tempatnya jauh dari jalan waktu.
--*--
TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba. Tenanglah, karena langit memberontaki bau amis kematian dan tak bisa meminum napasmu. Dengarkan, hatiku, dan dengarkan aku bicara. Kemarin pikiranku adalah kapal yang terombang-ambing oleh gelombang laut dan digerakkan oleh angin dari pantai ke pantai. Kapal pikiranku kosong kecuali untuk tujuh cawan yang dilimpahi dengan warna-warna, cemerlang bagai warna-warni bianglala. Sang waktu datang kala aku merasa jemu mengapung di atas permukaan laut dan berkata, "Aku akan kembali ke kapal kosong pikiranku menuju pelabuhan kota tempat aku dilahirkan."
--*--
Aku mulai mengecat sisi-sisi kapalku dengan warna-warni - kuning matahari terbenam, hijau musim semi baru, biru kubah langit, merah senjakala yang menjadi kecil. Pada layar dan kemudinya kukesankan sosok-sosok menakjubkan, menyenangkan mata dan menyamankan penglihatan. Tatkla kerjaku selesai, kapal pikiranku laksana pandangan luas seorang nabi, berputar dalam ketidakterbatasan laut dan langit. Kumasuki pelabuhan kotaku, dan orang muncul menemuiku dengan pujian dan rasa terima kasih. Mereka membawaku ke dalam kota, memukul genderang dan meniup seruling. Ini mereka lalukan karena bagian luar kapalku yang didekorasi dengan cemerlang, tapi tak seorang pun masuk ke dalam kapal pikiranku. Tak seorang pun menanyakan apakah yang kubawa dari seberang lautan Tak seorang pun tahu kenapa aku kembali dengan kapal kosongku ke pelabuhan. Lalu kepada diriku sendiri, aku berkata,"Aku telah menyesatkan orang-orang, dan dengan tujuh cawan warna telah kudustai mata mereka"
--*--
Setelah setahun aku naiki kapal pikiranku dan menaruh di laut untuk kedua kalinya. Aku berlayar menuju pulau-pulau timur, dan mengisi kapalku dengan dupa dan kemenyan, pohon gaharu dan kayu cendana. Aku berlayar menuju pulau-pulau barat, dan membawa bijih emas dan gading, batu merah delima dan zamrud, dan sulaman serta pakaian warna merah lembayung. Dari pulau-pulau selatan aku kembali dengan rantai dan pedang tajam, tombak-tombak panjang, serta beraneka jenis senjata. Aku mengisi kapal pikiranku dengan harta benda dan barang-barang langka bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku, sambil berkata, "Orang-orangku pasti akan memujiku, memamng sudah sepantasnya. Mereka akan menggendongku ke dalam kota sambil menyanyi dan meniup terompet, tapi sudah sepantasnya."Tapi ketika aku tiba di pelabuhan, tak seorangpun keluar menjumpaiku. Ketika kumasuki jalan-jalan kota, tak seorang pun memperhatikan diriku. Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahwa aku membawa buah dan kekayaan bumi. Mereka memandangku, mulutnya penuh tawa, cemoohan pada wajah mereka. lalu mereka berpaling dariku. Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung. Tak lama kemudian aku melihat kapalku maka aku melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang menghalangi perhatianku. Aku menjerit. Gelombang laut telah mencuri cat dari sisi-sisi kapalku, tak menyisakan apa pun kecuali tulang belulang yang mengelantang. Angin, badai dan terik matahari telah menghapus lukisanplukisan dari layar, menyisakan mereka seperti pakaian berwarna kelabu dan usang. Kukumpulkan barang-barang langka dan kekayaan bumi ke dalam sebuah perahu yang mengambang di atas permukaan air. Aku kembali ke orang-orangku, tapi mereka menolak diriku karena matanya hanya melihat bagian luar. Pada saat itu kutinggalkan kapal pikiranku dan pergi ke kota kematian. Aku duduk di antara kuburan-kuburan yang bercat kapur, merenungkan raharia-rahasianya.
--*--
TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba. Tenanglah, meskipun prahara yang mengamuk mencerca bisikan-bisikan batinmu, dan gua-gua lembah takkan menggemakan bunyi suaramu. Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. Karena dia yang menantikan dengan sabar hingga fajar, pagi hari akan memeluknya dengan bergairah. NUN di sana! Fajar merekah, hatiku. Bicaralah, jika kau mampu bicara! Itulah arak-arakan sang fajar, hatiku! Akankah hening malam melumpuhkan kedalaman hatimu yang menyanyi menyambut fajar? Lihatlah kawanan merpati dan burung murai melayang di atas lembah. Akankah kengerian malam menghalangi engkau untuk menduduki sayap bersama mereka? Para pengembala memandu kawanan dombanya dari tempat ternak dan kandang. Akankah hantu-hantu malam menghalangimu untuk mengikuti mereka ke padang rumput hijau? Anak lelaki dan perempuan bergegas menuju kebun anggur. Kenapa kau tak beranjak dan berjalan bersama mereka? Bangkitlah, hatiku, bangkit dan berjalan bersama fajar, karena malam telah berlalu. Teror malam lenyap bersama mimpi gelapnya. Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, karena hanya anak-anak kegelapan yang gagal menyatu ke dalam himne sang fajar.
Hello world!
10 tahun yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar