Ibuku, jelas lebih pintar dari ayahku. Ibuku paling tidak bisa menuliskan namanya dengan huruf Latin. Ayahku, hanya bisa menuliskan namanya dengan huruf Arab, huruf Arab gundul. Dan tanda tangannya pun seperti huruf shot. Tahu, 'kan? Sebelum tho dan zho itu.
Dan ayahku adalah pria yang sangat pendiam. Jika berada di rumah dengan ibuku, rumah kami menjadi pentas monolog ibuku, berpenonton satu orang. Namun, belasan tahun sudah jadi anaknya. Aku belajar bahwa pria pendiam sesungguhnya memiliki rasa kasih sayang yang jauh berlebih dibanding pria sok ngatur yang merepet saja mulutnya.
Buktinya, jika tiba hari pembagian rapor, ayahku mengambil cuti dua hari dari menyekop xenotim di instalasi pencucian timah, wasrai. Hari pembagian raporku adalah hari besar bagi beliau. Tanpa banyak cincong, hari pertama beliau
mengeluarkan sepatunya yang bermerek Angkasa. Dijemurnya sepatu kulit buaya yang rupanya seperti tatakan kue sempret itu, dipolesnya lembut dengan minyak rem dicampur tumbukan arang. Lalu ikat pinggangnya, dari plastik tapi meniru motif ular,
juga mendapat sentuhan semir istimewa itu. Dijemurnya pula kaus kakinya, sepasang kaus kaki sepak bola yang tebal sampai ke lutut, berwarna hijau tua.
Setelah itu, spesial sekali, beliau akan menuntun keluar sepeda Rally Robinson made in England-nya yang masih mengilap. Sejak dibeli kakeknya tahun 1920, tak habis hitungan jari tangan kaki sepeda itu pernah dikeluarkan. Diperiksanya
dengan teliti ban dan rantainya, dicobanya dinamo dan kliningannya, dan tak lupa, sepeda itu pun mendapat kehormatan dipoles ramuan semir merek beliau sendiri tadi. Dan yang terakhir, hanya, sekali lagi hanya, untuk acara yang sangat penting, beliau mengeluarkan busana terbaiknya: baju safari empat saku! Baju ini punya nilai historis bagi keluarga kami. Aku ingat, tahun 1972, setelah bertahun-tahun menjadi tenaga langkong, semacam calon pegawai PN Timah, akhirnya ayahku diangkat menjadi kuli tetap. Bonus pengangkatan itu adalah kain putih kasar bergaris-garis hitam. Oleh ibuku kain itu dijadikan lima potong celana dan baju safari sehingga pada hari raya Idul Fitri tahun 1972, ayahku, aku, adik laki-lakiku, dan kedua abangku memakai baju seragam: safari empat saku! Kami silaturahmi keliling kampung seperti rombongan petugas cacar. Saat pembagian rapor, ibuku pun tak kalah repot. Sehari semalam beliau merendam daun pandan dan bunga kenanga untuk dipercikkan di baju safari empat saku ayahku itu ketika menyetrikanya. Persiapan ayahku mengambil rapor akan ditutup dengan berangkat ke kawasan los pasar ikan untuk mencukur rambut dan kumis ubannya. Di sana, sambil memperlihatkan amplop undangan dari Pak Mustar, wakil kepala sekolah kami itu, beliau sedikit bicara, seperti berbisik, pada kawan-kawan dekatnya,
para pejabat trias politika Masjid Al-Hikmah.
“Besok, akan mengambil rapor Arai dan Ikal.... “
“Senyum ayahku indah sekali. Karena baginya aku dan Arai adalah pahlawan keluarga kami.
“Oh ... si Kancil Keriting itu, Pak Cik? “
“Taikong Hamim selalu menatap ayahku lama-lama untuk mengharapkan lebih banyak kata meluncur dari mulut beliau. Itulah orang pendiam, kata-katanya ditunggu orang. Sebenarnya, dengan memperlihatkan isi amplop itu ayahku bisa membual sejadi-jadinya. Karena dalam undangan tertulis aku dan Arai berada dalam barisan bangku garda depan. Siswa yang tak buruk prestasinya di SMA Negeri Bukan Main. Tapi bagi ayahku, tujuh kata itu: besok, akan mengambil rapor Arai dan Ikal, yang terdiri atas tiga puluh empat karakter itu, su dah cukup. Pada hari pembagian rapor, ayah ibuku telah menyiapkan segalanya. Suami istri itu bangun pukul tiga pagi. Ibuku menyalakan arang dalam setrikaan, mengipas-ngipasinya, dan dengan gesit memercikkan air pandan dan bunga kenanga, yang telah direndamnya sehari semalam, di sekujur baju safari empat saku keramat itu. Ayahku kembali melakukan pengecekan pada sepedanya
untuk sebuah perjalanan jauh yang sangat penting. Usai salat subuh ayahku siap berangkat. Dengan setelan lengkapnya: ikat pinggang bermotif ular tanah, sepatu kulit buaya yang mengilap, dan kaus kaki sepak bola, serta baju safari jahitan istrinya tahun 1972, yang sekarang berbau harum seperti kue bugis, kesan seorang buruh kasar di instalasi pencucian timah menguap dari ayahandaku. Sekarang beliau adalah mantri cacar, syahbandar, atau paling tidak, tampak laksana juru tulis kantor desa. Ibuku menyampirkan karung timah berisi botol air minum dan handuk untuk menyeka keringat. Lalu beliau bersepeda ke Magai, ke SMA Negeri Bukan Main, 30 kilometer jauhnya, untuk
mengambil rapor anakanaknya. Di bawah rindang dedaunan bungur, di depan aula tempat
pembagian rapor, sejak pagi aku dan Arai menunggu ayahku. Aku membayangkan beliau, yang akan pensiun bulan depan, bersepeda pelan-pelan melalui hamparan perdu apit-apit, kebun-kebun liar, dan jejeran panjang pohon angsana reklamasi bumi Belitong yang dihancurleburkan PN Timah. Lalu beliau beristirahat di pinggir jalan.
Beliau pasti menuntun sepedanya waktu mendaki Bukit Selumar, dan tetap menuntunnya ketika menuruni undakan itu sebab terlalu curam berbahaya. Beliau kembali melakukan hal yang sama saat melewati Bukit Selinsing, dan kembali terseok-seok mengayuh sepeda melawan angin melalui padang sabana belasan kilometer menjelang Magai. Tak mengapa, sebab kesusahan beliau akan kami obati di sini. Di dalam aula itu, Pak Mustar mengurutkan dengan teliti seluruh ranking dari tiga kelas angkatan pertama SMA kami. Dari ranking pertama sampai terakhir 160. Semua orangtua murid dikumpulkan di aula dengan nomor kursi besar-besar, sesuai
ranking anaknya. Nomor itu juga dicantumkan dalam undangan. Bukan Pak Mustar namanya kalau tidak keras seperti itu.
Maka pembagian rapor adalah acara yang dapat membanggakan bagi sebagian orangtua sekaligus memalukan bagi sebagian lainnya. Pak Mustar menjejer sepuluh kursi khusus di depan. Di sanalah berhak duduk para orangtua yang anaknya meraih prestasi sepuluh besar.
“Sepuluh terbaik itu adalah anak-anak Melayu avant garde, garda depan, “
“katanya bangga ketika mengenalkan konsepnya pada rapat orangtua murid.
Dan kebetulan, aku dan Arai berada di garda depan. Aku urutan ketiga, Arai kelima. Adapun Jimbron, mempersembahkan nomor kursi 78 untuk Pendeta Geo. Biasanya acara pembagian rapor akan berakhir dengan makian-makian kasar orangtua pada anak-anaknya di bawah jajaran pohon bungur di depan aula tadi.
“Berani-beraninya kaududukkan bapakmu di kursi nomor 147! Apa kerjamu di sekolah selama ini?! “
“Bikin malu! Semester depan kau cari bapak lain untuk mengambil rapormu!! “
“Metode Pak Mustar memang keras, tapi efektif. Anak-anak yang dimaki bapaknya itu biasanya belajar jungkir balik dalam rangka memperkecil nomor kursinya. Mereka sadar bahwa muka bapaknya dipertaruhkan langsung di depan majelis. Aku dan Arai serentak berdiri ketika melihat sepeda ayahku. Sepeda itu mudah dikenali dari kap lampu aluminium putih yang menyilaukan ditimpa sinar matahari. Beliau melihat kami melambai-lambai dan mengayuh sepedanya makin cepat. Lima meter menjelang kami, dadaku sejuk berbunga-bunga karena aroma daun pandan. Beliau turun dari sepeda, seperti biasa, hanya satu ucapan pelan “
“Assalamu'alaikum “
“, tak ada kata lain. Beliau menepuk-nepuk pundak kami sambil memberikan senyumnya yang indah. Beliau mengelap keringat, merapikan rambutnya dengan tangan, dan berjalan tenang memasuki aula dengan gaya jalannya yang pengkor,
mencari kursi nomor tiga. Tepuk tangan ramai bersahutan ketika nama ayahku
dipanggil. Setelah menerima raporku, Pak Mustar mempersilakan ayahku menempati kursi nomor lima yang kosong, dan tepuk tangan kembali membahana waktu namanya kembali dipanggil untuk mengambil rapor Arai. Tidaklah terlalu buruk, seorang
tukang sekop di wasrai dipanggil dua kali oleh Kepala SMA Negeri Bukan Main. Kulihat senyum menawan ayahku dan aku tahu, saat itu adalah momen terbaik dalam hidupnya. Selesai menerima rapor, ayahku keluar dari aula dengan tenang dan dapat kutangkap keharuan sekaligus kebanggaan yang sangat besar dalam dirinya. Beliau menemui kami, tapi tetap diam. Dan inilah momen yang paling kutunggu. Momen itu
hanya sekilas, yaitu ketika beliau bergantian menatap kami dan dengan jelas menyiratkan bahwa kami adalah pahlawan baginya. Dan kami ingin, ingin sekali dengan penuh hati, menjadi pahlawan bagi beliau. Lalu ayahku tersenyum bangga, hanya
tersenyum, tak ada sepatah pun kata. Senyumnya itu seperti ucapan terima kasih yang diucapkan melalui senyum. Beliau menepuk-nepuk pundak kami, mengucapkan “
“Assalamu'alaikum”dengan pelan sekali, lalu beranjak pulang. Mengayuh sepedanya lagi, 30 kilometer. Kupandangi punggung ayahku sampai jauh. Sepedanya berkelak-kelok di atas jalan pasir. Betapa aku mencintai lakilaki pendiam itu. Setiap dua minggu aku bertemu dengannya, tapi setiap hari aku merindukannya.
Hello world!
10 tahun yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar